Kabarnanggroe.com, Kota Jantho– Usaha kerajinan tradisional atap rumbia di Gampong Babah Jurong Kecamatan Kuta Baro masih terus eksis dan bertahan, meskipun sebagian besar orang lebih memilih menggunakan atap berbahan seng, asbes, maupun plastik untuk melindungi rumah mereka. Namun, nyatanya di era serba modern ini masih ada pengrajin atap berbahan daun rumbia masih terus berproduksi.
Kerajinan atap rumbia memang sudah tidak asing lagi. Kebanyakan masyarakat menganyam atap daun rumbia dijadikan sebagai salah satu mata pencaharian untuk bisa menopang kehidupan sehari-hari.
Mardiana (38) salah satu perajin atap rumbia di Gampong Babah Jurong Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar mengatakan, dirinya bekerja sebagai penganyam atap rumbia dari sejak belum menikah sampai sekarang sudah punya dua anak.
“Anak pertama saya sudah menempuh pendidikan kuliah dan yang nomor dua berumur 15 tahun sekarang dia masih sekolah Sekolah Menengah Pertama SMP,” kata Mardiana (38) kepada pewarta posaceh.com, Aceh Besar, Jumat (28/07/2023).
Ia menyebutkan, pekerjaan membuat atap rumbia yang ia geluti tersebut sudah turun temurun dari leluhurnya.
“Sudah menjadi tradisi turun temurun dan saya merupakan generasi ketujuh yang melanjutkan warisan tersebut,” sebutnya
Meski sudah susah mencari pembeli, Mardiana mengaku enggan untuk berhenti sebagai pengrajin atap rumbia, lantaran rasa kecintaannya untuk melestarikan keberadaan atap rumbia agar bisa terus ada.
“Dirinya juga meyakini, atap rumbia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahan bangunan apapun sebagai atap rumah atau saung, meski teknologi terus berkembang,” terangnya
Ia menjelaskan, saya sebagai pengrajin Atap rumbia, bisa mengumpulkan 100 hingga 150 lembar atap dalam satu hari. Untuk nilai jual per lembar atap daun rumbia hanya dihargai oleh pembeli sebesar Rp2000.
“Harganya masih Rp 2000, padahal kami harus mengeluarkan modalnya besar, kami harus beli lagi bambu dan rotan. Untuk bahan baku daun rumbia, itu kami ambil dari kebun sagu punya pribadi dan ada juga yang harus dibeli,” jelas Mardiana.
Mardiana juga berharap dapat bantuan permodalan dari program pemerintah dan membantu untuk mempromosikannya atap rumbia secara luas. Karena sejauh ini, belum pernah mendapatkan bantuan dan perhatian Pemerintah pada usaha kami.
“Tolong perhatikan kami, supaya usaha yang kami geluti ini bisa maju, supaya perekonomian keluarga bisa meningkat dan kami juga butuh modal usaha untuk bisa terus berkerja,” pungkas Mardiana. (DJ)
