Kabarnanggroe.com, Kutacane – Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara mempercepat penanganan darurat banjir yang melanda 65 desa di 16 kecamatan, menyusul meluasnya kerusakan material dan bertambahnya jumlah warga terdampak.
Koordinasi dipusatkan dalam rapat penanganan bencana di Ruang Rapat Wakil Bupati, Kamis (27/11/2025), dipimpin Sekretaris Daerah Yusrizal mewakili Bupati Aceh Tenggara, H. M. Salim Fakhry. Rapat yang melibatkan unsur Forkopimda, BPBD, Dinas Sosial, Dinas PUPR, TNI, Polri, serta para camat itu berfokus pada percepatan evakuasi, penyaluran logistik, serta inventarisasi kerusakan infrastruktur yang kini meluas.
Curah hujan tinggi sejak 25–27 November menyebabkan banjir menerjang rumah warga serta merusak berbagai fasilitas umum. Laporan sementara BPBD menunjukkan: Puluhan rumah rusak dengan kategori ringan hingga berat. Sejumlah jembatan terputus, terutama di Kecamatan Darul Hasanah, Lawe Sigala-Gala, Lawe Alas, dan Tanoh Alas. Badan jalan tergerus dan longsor di beberapa titik, sehingga jalur strategis antarkecamatan tidak dapat dilalui mobil.
Puluhan hektar lahan pertanian terendam, termasuk ladang padi, jagung, dan kebun warga. Fasilitas drainase dan tanggul sungai jebol di beberapa lokasi, memperbesar aliran air ke pemukiman. Akses utama menuju Kutacane dari arah Medan dan Blangkejeren terdampak oleh luapan sungai, sehingga mobilitas logistik dan tim lapangan tersendat.
BPBD mencatat 774 KK atau 1.879 jiwa terdampak. Ratusan warga kini mengungsi di titik-titik penampungan, antara lain, Desa Uning Segugur, Bener Bepapah, Lawe Penanggalan, Mbarung, Sukadame. Sejumlah desa di Tanoh Alas dan Bukit Tusam
Jumlah pengungsi diperkirakan akan bertambah seiring pembaruan data dari camat dan perangkat desa. BPBD melaporkan 2 korban meninggal, yakni Sanah (40) dari Desa Darul Makmur dan Teuku Ihsan dari Lawe Penanggalan. Satu korban selamat, Tio (15), masih menjalani perawatan di RSUD H. Sahudin.
Hingga kini, 20 warga masih dinyatakan hilang, termasuk santri dan satu pasangan suami-istri. Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, SAR, dan relawan terus melakukan penyisiran melalui jalur sungai maupun rute darat yang dapat diakses. Pemerintah daerah mengerahkan tiga unit excavator untuk menyingkirkan material kayu, batu, dan lumpur yang menutup jalan. Upaya pembukaan akses darurat juga difokuskan pada jalur yang menghubungkan desa-desa terdampak dengan pusat kota.
Dinas Sosial mengoperasikan dapur umum di beberapa titik, sementara pasokan air bersih, sandang, dan obat-obatan dikirimkan secara bertahap menyesuaikan kondisi lapangan. BPBD telah mengaktifkan seluruh personel TRC dan memperkuat koordinasi dengan TNI–Polri untuk memastikan distribusi bantuan tidak terhambat oleh kondisi infrastruktur yang rusak. Sekda Yusrizal menegaskan bahwa pemerintah daerah bergerak cepat dalam mitigasi, penanganan, dan layanan kemanusiaan.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Seluruh sumber daya daerah kita kerahkan untuk memastikan kebutuhan warga terpenuhi,” ujarnya. Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara, Mohd. Asbi, meminta warga yang tinggal di kawasan rawan agar meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor bila terjadi kondisi darurat. Pembaruan informasi penanganan banjir akan terus disampaikan melalui Pusdalops-PB BPBD Aceh Tenggara.(Ilyas/*)






