Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – DPRK Banda Aceh menyoroti pentingnya keterlibatan remaja dalam upaya mencegah penularan HIV/AIDS. Hal itu disampaikan Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, ST., saat membuka penyuluhan, sosialisasi dan edukasi kesehatan bertema “Hidup Sehat, Remaja Bebas HIV/AIDS” di Paopia Coffee, Banda Aceh, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh tersebut berlangsung selama dua hari, 29-30 September 2026, dan diikuti 50 remaja putra-putri yang merupakan kader remaja Posyandu Gampong dari wilayah kerja Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Lampulo. Para peserta dibekali pengetahuan tentang kesehatan remaja, perilaku berisiko, narkoba serta HIV/AIDS agar dapat meneruskan edukasi kepada teman sebaya dan masyarakat di gampong.
Farid Nyak Umar, ST., mengatakan kegiatan tersebut diinisiasi bersama Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh karena kader remaja Posyandu memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan yang berinteraksi dengan masyarakat. Mereka diharapkan dapat menjadi duta Pemerintah Kota Banda Aceh di tingkat gampong dalam menyampaikan informasi kesehatan secara tepat.
“Tujuan kegiatan ini memberikan pembekalan kepada kader remaja Posyandu agar mereka bisa menjadi duta atau perwakilan Pemerintah Kota Banda Aceh di gampong. Mereka diharapkan mampu mengedukasi teman sebaya sehingga semakin banyak remaja yang memiliki pengetahuan dan memahami persoalan HIV/AIDS dengan baik,” kata Farid.
Menurut Farid, ada tiga hal penting yang perlu dipahami para peserta, yakni mengenali risiko, mencegah penularan, dan menghapus stigma. Pengetahuan, kata dia, menjadi salah satu bekal penting bagi remaja untuk memahami berbagai risiko dan mengambil langkah pencegahan.
“Pertama adalah mengenali risiko, sehingga para peserta mengetahui risiko terkena atau tidak terkena HIV/AIDS. Pengetahuan itu merupakan benteng pertama bagi adik-adik sekalian. Kedua, mencegah penularan, sehingga memahami bahwa penularan bisa terjadi dan penting melakukan upaya preventif. Terakhir adalah menghapus stigma, karena orang dengan HIV/AIDS bukan untuk dijauhi, tetapi untuk diobati,” ujarnya.
Kemudian, Farid Nyak Umar, ST., juga menyoroti perkembangan kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh. Berdasarkan data yang disebutkannya dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, pada 2008 tercatat 10 kasus, terdiri dari sembilan kasus HIV dan satu kasus AIDS. Sementara hingga Agustus 2026, jumlah kasus yang disebutkan telah mencapai 942 kasus.
“Kalau kita melihat data yang dirilis Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, pada 2008 hanya ada 10 kasus HIV/AIDS, yakni sembilan kasus HIV dan satu kasus AIDS. Namun sampai Agustus 2026, secara total sudah mencapai 942 kasus. Ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa persoalan HIV/AIDS tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah,” katanya.
Karena itu, ia berharap edukasi yang diberikan kepada kader remaja tidak berhenti di ruang kegiatan, tetapi diteruskan kepada masyarakat. Menurutnya, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan pemerintah, kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat di tingkat gampong.
“Kita berharap para kader ini dapat menjadi duta Pemerintah Kota Banda Aceh untuk menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat. Dengan begitu, masyarakat memiliki pengetahuan, mampu mengenali risiko, mencegah penularan, sekaligus menghapus stigma. Semua pihak perlu berkontribusi bersama Pemerintah Kota Banda Aceh untuk menekan penularan HIV/AIDS,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi dari drg. Supriayadi R, M.Kes., dengan topik “Perilaku Berisiko Remaja dan Seks Bebas, Narkoba dan HIV/AIDS”. Sementara Ustaz Febri Sugianto menyampaikan materi “Konsep Kesehatan untuk Remaja Sehat” serta dr. dr. Cut Nonda Maracilu, Sp.OG Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi dengan topik “Hidup Sehat bebas HIV/AIDS”. pemateri tersebut untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai pola hidup sehat dan pembentukan karakter. (Zal)
