Daerah  

Senne Lammens Selalu Siap Hadapi ‘Royal Rumble’ di Kotak Penalti Man United

Kiper Manchester United, Senne Lammens mencoba menepis sepak pojok Everton Selasa (24/2/2026). FOTO/MUFC Official

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Kiper utama Manchester United, Senne Lammens, menegaskan dirinya siap menghadapi kerasnya duel udara dan “perang” di kotak penalti yang menjadi ciri khas Premier League.

Penjaga gawang berusia 23 tahun itu tengah menikmati sorotan setelah tampil impresif dalam kemenangan 1-0 di markas Everton, Selasa (24/2/2026) dini hari WIB.
Dalam laga tersebut, Lammens mencatatkan clean sheet tandang pertamanya di Premier League bersama Setan Merah.

Salah satu momen krusial dalam pertandingan itu terjadi saat Everton terus menekan lewat skema bola mati. Situasi sepak pojok yang padat dan penuh kontak fisik disebut gelandang MU, Kobbie Mainoo, layaknya “kerusuhan Royal Rumble atau WrestleMania”.

Namun di tengah kerumunan pemain dan dorong-dorongan di area kotak penalti, Lammens justru tampil tenang. Ia berani keluar dari sarangnya untuk memotong umpan silang dan mengamankan bola di udara, sesuatu yang sebelumnya menjadi titik lemah MU pada awal musim.

Manajer Everton, David Moyes, bahkan mengakui dirinya sempat meremehkan kemampuan Lammens dalam mengantisipasi bola-bola mati. Sementara legenda MU yang kini menjadi analis, Gary Neville, menyematkan predikat man of the match kepada kiper asal Belgia tersebut.

Salah satu momen krusial dalam pertandingan itu terjadi saat Everton terus menekan lewat skema bola mati. Situasi sepak pojok yang padat dan penuh kontak fisik disebut gelandang MU, Kobbie Mainoo, layaknya “kerusuhan Royal Rumble atau WrestleMania”.

Namun di tengah kerumunan pemain dan dorong-dorongan di area kotak penalti, Lammens justru tampil tenang. Ia berani keluar dari sarangnya untuk memotong umpan silang dan mengamankan bola di udara, sesuatu yang sebelumnya menjadi titik lemah MU pada awal musim.

Manajer Everton, David Moyes, bahkan mengakui dirinya sempat meremehkan kemampuan Lammens dalam mengantisipasi bola-bola mati. Sementara legenda MU yang kini menjadi analis, Gary Neville, menyematkan predikat man of the match kepada kiper asal Belgia tersebut.

Lammens tak menampik bahwa duel di kotak penalti Premier League sering kali terasa seperti pertempuran kecil. Meski begitu, ia justru menikmatinya.

“Memang harus ada aturan yang jelas, tidak boleh berlebihan. Tapi saya menikmati situasi seperti itu, keluar sedikit dari zona nyaman dan menghadapi tantangan tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, meski banyak tubuh mengelilinginya saat sepak pojok, ia tetap percaya diri untuk maju menyongsong bola. “Itu memberi saya perasaan bahwa saya melakukan pekerjaan dengan baik,” tambahnya.

Ia juga menyinggung kemungkinan evaluasi dari otoritas wasit terkait perlindungan terhadap kiper dalam situasi bola mati. Namun secara pribadi, Lammens tidak keberatan dengan intensitas tinggi tersebut.

“Ini Premier League. Ada fisik, ada sedikit ‘perang’ di kotak penalti. Itu salah satu kekuatan saya. Jadi kadang saya justru menyukai tantangannya,” tegasnya.

Kedatangan Lammens enam bulan lalu sempat dipandang sebagai langkah jangka panjang. Apalagi sebelumnya dua kiper MU, Andre Onana dan Altay Bayindir, beberapa kali melakukan kesalahan saat mengantisipasi umpan silang di awal musim.

Kini, Lammens perlahan menjawab ekspektasi. Postur tubuh yang besar dan kekuatan fisik menjadi modal penting untuk bersaing di liga paling kompetitif di dunia.

“Anda harus kuat dan tidak mudah didorong. Saya memang selalu punya postur lebih besar dan bobot yang cukup. Itu jadi nilai positif di Premier League,” katanya.

Ia juga menilai prinsip dasar teknik menjaga gawang tetap sama seperti saat bermain di Belgia, hanya saja intensitas dan jumlah pemain di kotak penalti lebih banyak.

“Rekan setim juga membantu saya dengan melakukan blocking terhadap lawan. Semua harus beradaptasi. Sebagai kiper, Anda harus melatihnya dan terus berkembang.”

Lammens percaya karakter fisik dan keberaniannya dalam duel udara menjadi salah satu alasan Manchester United merekrutnya.

“Saya rasa mereka tahu seperti apa kerasnya Premier League. Mungkin itu juga mengapa mereka tertarik pada saya,” tuturnya.

Dengan performa solid dan mentalitas siap tempur di area paling rawan, Lammens kini tak sekadar menjadi sensasi sesaat. Ia mulai menegaskan diri sebagai tembok baru di bawah mistar Manchester United, siap menghadapi setiap sepak pojok layaknya sebuah pertarungan.(Muh/*)