Kabarnanggroe.com, Sigli – Proyek pembangunan talut (penahan tanah) yang terletak di ruas Jalan Lintas Sigli-Banda Aceh, tepatnya di Gampong Simpang Beutong, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, diduga proyek siluman tanpa adanya papan informasi ke publik.
Menurut keterangan seorang warga yang melintasi jalan itu, proyek pembangunan talut penahan tanah itu dikerjakan sejak 10 Mei 2023. “Sudah lama dibangun, tapi tidak pernah melihat papan informasi, pembangun talut penahan tanah tersebut yang dikerjakan dua titik,” katanya.
Pekerjaan pada titik pertama sudah berlangsung bekerja 80%, namun pekerjaan itu sedang dihentikan untuk sementara, dilanjutkan pada titik kedua masih kerja menggali untuk membangun pengecoran talut penahan tanah.
Bedasarkan pantauan wartawan posaceh.com, Senin (24/06/2023), di lokasi memang tidak terlihat papan informasi proyek. Proyek ini sudah dikerjakan kurang lebih dua bulan, namun tidak memasang plang atau papan informasi sehingga patut diduga proyek yang tidak jelas asal muasalnya.
Kerena setiap proyek berasal dari keuangan negara berkewajiban memasang plang papan nama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2010 dan Perpres Nomor 70 Tahun 2012. Regulasi ini mengatur setiap pekerjaan bangunan fisik atau non fisik yang dibiayai negara wajib memasang papan nama proyek, sebagai bentuk Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Sehingga masyarakat juga bisa mendapatkan akses informasi, seperti siapa kontraktor pelaksana, jumlah nilai kontrak, volume, masa kerja dan sumber anggarannya, jadi siapapun bisa mengawasi apakah pekerjaan tersebut dikerjakan sesuai spek atau tidak.
Mirisnya lagi di lokasi pekerjaan, pihak media tidak melihat adanya pengawasan dari pihak terkait, seperti dari rekanan, PPTK, atau Konsultan Pengawas Dinas PUPR, di lokasi cuma yang ada hanya para pekerja tanpa ada yang mengawasinya.
Seorang perkerja di lokasi, yang namanya enggan dipublikasikan mengatakan, pihaknya sudah lama berkerja dan tidak ada papan informasi, yang dipasang hanya bendera.
“Kami sudah lama berkerja tidak ada papan informasi cuma yang ada bendera yang dipasang sedangkan papan informasi itu kami tidak tau kami, kami di sini hanya bekerja dengan dibayar Rp 100 ribu perhari,” katanya.
Sementara itu, seorang pengawas lapangan bernama Faisal, mengatakan masalah papa informasi tidak tahu. Ia mengaku sama juga seperti pekerja, yang tugasnya hanya mengawasi para pekerja di lapangan. Masalah anggaran juga tidak tahu berapa dana dan siapa pelaksan, ia mengaku tidak tahu.
“Saya tidak tahu malasah pemasangan papan informasi, sumber dana, yang kerjakan dari PT mana, saya disini hanya menunggu perintahkan dan mengontrol dilapangan,” kata Faisal.
Sampai berita ini diterbitkan semua orang lapangan tidak mengakui sebagai petugas dan pihak PPK dan konsultan proyek atau pihak-pihak terkait belum terkonfirmasi. (Hrs)






