Wisata  

Jejak Tuan Tapa: Misteri Jejak yang Hilang di Tanah Aceh Kembali Jadi Sorotan

Jejak kaki Tuan Tapa di Tapaktuan, tak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga menyimpan misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Foto diambil beberapa waktu lalu. FOTO/ SYAHRUL

Kabarnanggroe.com, Tapaktuan – Kisah legenda jejak kaki Tuan Tapa di Tapaktuan kembali menarik perhatian publik. Destinasi yang terletak di ujung selatan Aceh ini tak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga menyimpan misteri yang hingga kini belum terpecahkan.

Jejak kaki raksasa yang berada di kawasan Tapaktuan dikenal luas sebagai simbol keberanian seorang ulama bernama Tuan Tapa. Dalam cerita yang berkembang di tengah masyarakat, ia disebut pernah bertarung melawan seekor naga raksasa demi menyelamatkan seorang putri.
Setiap tahun, lokasi ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Mereka datang untuk menyaksikan langsung jejak berukuran besar tersebut, sekaligus merasakan atmosfer legenda yang masih kental menyelimuti kawasan itu.

Namun di balik daya tariknya, muncul satu pertanyaan yang terus menjadi perbincangan:

Di mana jejak kaki Tuan Tapa yang satunya lagi?

Menurut penuturan warga, jejak kedua diyakini pernah berada di wilayah Gampong Lawe Cimanok, Tapak Aulia, Kecamatan Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan di tengah persawahan masyarakat, tidak jauh dari pusat Tapaktuan, jarak tempuh menuju lokasi tersebut kurang lebih 1 jam 2 menit. Lokasinya disebut berada di area yang lebih sunyi dan jauh dari keramaian wisata.

Sayangnya, jejak tersebut kini tidak lagi dapat ditemukan. Warga menyebut, upaya pelestarian yang pernah dilakukan justru menjadi penyebab hilangnya jejak bersejarah tersebut. Saat itu, jejak disebut sempat dicor menggunakan semen dengan tujuan menjaga bentuknya. Namun tanpa metode konservasi yang tepat, jejak tersebut perlahan tertutup dan akhirnya hilang.

Kondisi ini memunculkan keprihatinan, terutama terkait pentingnya pelestarian warisan budaya. Legenda Tuan Tapa dinilai bukan sekadar cerita rakyat, melainkan bagian dari identitas sejarah dan budaya masyarakat Aceh.

Sejumlah pihak pun mulai mendorong adanya perhatian lebih, baik dari pemerintah maupun masyarakat, untuk menelusuri kembali keberadaan jejak yang hilang tersebut. Upaya pelestarian, penelitian, hingga kemungkinan rekonstruksi dinilai penting agar warisan ini tidak benar-benar lenyap.

Salah seorang warga setempat menuturkan, “Dulu tempat ini sering disebut-sebut orang. Tapi sekarang, jangankan dirawat, dilihat saja sudah jarang. Seperti tidak ada lagi yang peduli,” Rahman, kepada media ini, di Tapaktuan, Kamis (25/3/2026).

Warga lainnya juga menyayangkan minimnya perhatian terhadap lokasi tersebut. “Padahal ini bisa jadi sejarah besar untuk kampung kami. Tapi sekarang hanya tinggal cerita. Anak-anak muda pun banyak yang tidak tahu lagi,” ujarnya Sudirman dengan nada prihatin

Ada pula harapan yang masih tersisa di tengah kekecewaan itu. Sebagian masyarakat berharap adanya campur tangan pemerintah untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.
“Kalau bisa ditelusuri lagi atau setidaknya dibuat penanda, biar orang tahu kalau di sini pernah ada jejak itu. Jangan sampai hilang begitu saja,” harap Munandar.

Jika tidak, dikhawatirkan yang hilang bukan hanya jejak fisik semata, tetapi juga bagian dari jati diri dan sejarah lokal yang selama ini diwariskan turun-temurun. Hingga kini, misteri tersebut masih menjadi tanda tanya besar.(Rul)