Kabarnanggroe.com, Aceh – Menjelajahi serambi Mekah itu lebih dari sekadar menikmati pemandangan pantai atau keindahan masjid-masjidnya yang megah.
Ini adalah kesempatan untuk merasakan ritme kehidupan kuno yang masih hidup di rumah-rumah panggung masyarakatnya.
Di pedalaman Aceh, pagi hari sering kali dibuka dengan suara deburan kayu yang berirama, sebuah simfoni kuno dari proses top jeungki , yaitu menumbuk beras dengan alu kayu raksasa yang digerakkan oleh kaki.
Alat penumbuk yang berbasis hukum tuas ini bukan sekadar alat usang yang terlupakan. Ia melambangkan ketahanan budaya masyarakat Serambi Mekah yang dengan tegas menolak untuk bergantung pada mesin giling modern.
Bulir-bulir beras lokal pilihan dimasukkan ke dalam lesung batu, lalu perlahan dihujam oleh ujung jeungki hingga hancur menjadi serbuk putih yang halus dan lembut.
Tepung beras yang dihasilkan dari proses manual ini memiliki keunggulan biologis yang tidak dimiliki oleh produk pabrikan, kelembapan alaminya tetap terjaga dengan baik, dan patinya tidak rusak oleh panas mesin.
Hasilnya adalah bahan baku murni berkualitas tinggi untuk menciptakan berbagai kue tradisional Aceh yang autentik.
Kelembutan tepung beras segar yang diolah dengan jeungki inilah yang menjadi inti dari kuet seupet, salah satu kue tradisional Aceh yang sangat terkenal.
Camilan ini memiliki bentuk yang mirip dengan semprong (tabung tipis panjang), tetapi kaya akan filosofi dan cerita di balik proses pembuatannya.
Di tangan para ibu yang dengan penuh kesabaran menjaga tradisi, adonan tepung beras ini dicampur dengan santan kental, telur ayam kampung, dan gula aren.
Setelah semua bahan tercampur dengan baik, adonan dipanggang di atas cetakan besi bermotif sulur yang dijepitkan di atas bara api kayu yang harum.
Ketepatan waktu dalam menjepit dan melipat adonan panas menjadi bentuk kipas atau silinder memerlukan keahlian jemari yang luar biasa, sebuah keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui renyahnya kuet seupet yang manis, gurih, dan beraroma asap tipis dari kayu bakar, kita tidak hanya menikmati sepotong kue tradisional Aceh.
Kita juga merayakan kearifan lokal Aceh yang lahir dari kerja sama dan kesabaran di atas lesung jeungki. Kue tradisional Aceh adalah warisan rasa yang patut kita lestarikan.(Muh/*)
