Kabarnanggroe.com, Banda Aceh — International Labour Organization (ILO) bersama Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), dan PT Kliring Berjangka Indonesia (PT KBI) secara resmi memulai penyusunan kajian Sistem Resi Gudang (SRG) untuk komoditas minyak nilam melalui kegiatan Kick-Off Meeting yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada, Jumat (24/7/2026).
Pertemuan koordinasi lintas institusi tersebut dihadiri oleh perwakilan ILO, ARC USK, BAPPEBTI, PT KBI, serta tim peneliti dan tenaga ahli yang akan terlibat dalam penyusunan kajian. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menyepakati ruang lingkup kajian, metodologi, pembagian peran, mekanisme koordinasi, serta timeline pelaksanaan kegiatan yang akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Kajian ini disusun sebagai dasar ilmiah dan rekomendasi kebijakan untuk mendukung usulan minyak nilam sebagai komoditas yang dapat diimplementasikan melalui skema Sistem Resi Gudang (SRG) dan selanjutnya menjadi masukan dalam penyusunan Peraturan Menteri Perdagangan. Untuk itu, kajian akan dilakukan secara komprehensif dengan menelaah seluruh rantai nilai minyak nilam, mulai dari aspek budidaya, pascapanen, penyulingan, pengendalian mutu, penyimpanan, tata niaga, pembiayaan, kelembagaan, hingga aspek regulasi yang mendukung implementasi SRG.
Selain membahas ruang lingkup kajian, Kick-Off Meeting juga menghasilkan kesepakatan mengenai mekanisme koordinasi lintas kementerian dan lembaga yang akan dilibatkan selama proses penyusunan kajian. Sinergi tersebut dinilai penting agar rekomendasi yang dihasilkan dapat mengakomodasi berbagai aspek kebijakan, mulai dari perdagangan, standarisasi mutu, pergudangan, pembiayaan, hingga pengembangan komoditas perkebunan.
“Pengembangan rantai nilai minyak nilam memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan pelaku usaha. Melalui kajian ini, ILO berharap dapat mendukung penyusunan kebijakan yang mampu memperkuat daya saing industri nilam sekaligus membuka akses pembiayaan dan peluang ekonomi yang lebih luas bagi petani serta pelaku usaha di sepanjang rantai nilai,” ujar Djauhari Sitorus, Project Manager Promise II Impact ILO.
Indonesia merupakan produsen utama minyak nilam dunia dan menjadi pemasok terbesar bagi industri parfum, kosmetik, serta produk perawatan tubuh. Namun demikian, industri nilam nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain fluktuasi harga, keterbatasan akses pembiayaan, belum seragamnya kualitas produk, serta belum optimalnya sistem penyimpanan dan tata niaga komoditas.
Salah satu instrumen yang dinilai mampu menjawab tantangan tersebut adalah Sistem Resi Gudang (SRG). SRG merupakan sistem perdagangan yang memungkinkan komoditas yang telah memenuhi standar mutu disimpan di gudang terakreditasi dan memperoleh dokumen kepemilikan berupa Resi Gudang.
Dokumen tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan sebagai agunan untuk memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan. Melalui mekanisme ini, petani maupun pelaku usaha tidak harus menjual komoditasnya ketika harga sedang rendah, sehingga memiliki posisi tawar yang lebih baik sekaligus memperoleh akses modal usaha.
“Sebelum suatu komoditas dapat diimplementasikan dalam Sistem Resi Gudang, diperlukan kajian yang komprehensif mengenai kesiapan komoditas tersebut dari berbagai aspek. Oleh karena itu, kajian ini menjadi tahapan penting dalam menghasilkan rekomendasi yang dapat mendukung penyusunan regulasi serta implementasi SRG minyak nilam secara efektif dan berkelanjutan,” jelas Diah Arisanti, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang Komoditas (SRG & PLK).
Sebagai lembaga penelitian yang selama ini aktif melakukan riset dan pendampingan pengembangan ekosistem nilam di Aceh maupun Indonesia, ARC USK akan memberikan dukungan ilmiah melalui pengumpulan data, analisis rantai pasok, identifikasi kebutuhan kelembagaan, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
“ARC USK berkomitmen memastikan bahwa rekomendasi yang dihasilkan didasarkan pada hasil penelitian, kondisi lapangan, serta kebutuhan nyata para pelaku usaha. Kajian ini diharapkan mampu menjembatani hasil riset dengan kebutuhan kebijakan sehingga implementasi Sistem Resi Gudang minyak nilam dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh pemangku kepentingan,” ungkap Dr. Syaifullah Muhammad, ketua ARC USK.
Sebagai mitra strategis dalam penyelenggaraan Sistem Resi Gudang, PT Kliring Berjangka Indonesia menegaskan pentingnya pembangunan ekosistem SRG yang kredibel, transparan, dan memberikan kepastian bagi seluruh pelaku usaha.
“Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam membangun ekosistem Sistem Resi Gudang yang kuat. PT KBI mendukung penyusunan kajian ini sebagai langkah awal untuk menghasilkan model implementasi yang tidak hanya memenuhi aspek regulasi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani, koperasi, dan industri minyak nilam nasional,” ujar Dihan Yusro, manajer PT. KBI.
Ke depan, penyusunan kajian akan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, meliputi studi literatur, pengumpulan data lapangan, konsultasi dengan kementerian dan lembaga terkait, Focus Group Discussion (FGD), analisis kebijakan, hingga penyusunan dokumen rekomendasi. Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi referensi strategis bagi pemerintah dalam menetapkan arah kebijakan pengembangan Sistem Resi Gudang untuk komoditas minyak nilam.
Melalui kolaborasi antara ILO, ARC USK, BAPPEBTI, dan PT Kliring Berjangka Indonesia, diharapkan pengembangan Sistem Resi Gudang tidak hanya memperkuat tata niaga minyak nilam nasional, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia sebagai produsen utama minyak nilam dunia, memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha, serta menciptakan rantai nilai yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan. (Herman/Heri Ulka)
