PANORAMA HIMAPAN Soroti Pemulihan Pascabencana dan Ancaman Lingkungan di Aceh

Foto bersama pada pelaksanaan PANORAMA (Pojok Nalar & Obrolan Mahasiswa) yang digelar Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAPAN) melalui Divisi Kajian dan Aksi Strategis (Kastrad), di Banda Aceh, Minggu (20/9/2026). FOTO/ DOK MPA

Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Pemulihan pascabencana hidrometeorologi Aceh dinilai tidak cukup hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh kondisi sosial, ekonomi, psikologis, dan lingkungan masyarakat.

Hal itu menjadi sorotan dalam PANORAMA (Pojok Nalar & Obrolan Mahasiswa) yang digelar Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAPAN) melalui Divisi Kajian dan Aksi Strategis (Kastrad), di Banda Aceh, Minggu (20/9/2026).

Ketua Divisi Kastrad HIMAPAN, Gebri Rahmatillah mengungkapkan, PANORAMA menjadi ruang mahasiswa untuk membedah persoalan pascabencana dan merumuskan gagasan yang dapat ditindaklanjuti.

“Pemulihan pascabencana harus melihat persoalan masyarakat secara utuh, bukan hanya pembangunan fisik,” ujarnya pada kegiatan yang mengusung tema “Rehabilitasi dan Rekonstruksi Hidrometeorologi di Aceh” itu.

Dalam pelaksanaannya, diskusi tersebut dipandu Melisa Ulandari dan dihadiri Wakil BPH HIMAPAN, Muzzamil Zikri, serta mahasiswa lintas organisasi dan disiplin ilmu, di antaranya MELATI, TEMU SASTRA, HIMASIO, HIMAPOL, HIMAKASI, STIK Pante Kulu, Hubungan Internasional dan SABANG KARSA.

Peserta menyoroti dampak bencana terhadap mata pencaharian dan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak. Trauma pascabencana dinilai perlu mendapat perhatian sehingga pemulihan mental berjalan seiring dengan pembangunan fisik.

Pembahasan juga menyoroti aktivitas pertambangan, pembukaan lahan, ekspansi perkebunan, perizinan dan AMDAL. Peserta menilai pengelolaan lingkungan harus mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian dan perkebunan.

Wakil BPH HIMAPAN, Muzzamil Zikri, menegaskan mahasiswa perlu peka terhadap persoalan masyarakat dan ikut menghadirkan gagasan dalam proses pemulihan.

“Mahasiswa harus peka terhadap kondisi masyarakat. PANORAMA menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif dan melahirkan gagasan yang konstruktif,” katanya.

Peserta juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi melalui penguatan gotong royong, pendidikan kebencanaan dan kesadaran lingkungan.

Seluruh masukan dan rekomendasi diskusi akan dihimpun dalam policy brief sebagai bahan masukan terkait kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi hidrometeorologi di Aceh.(Wahyu/*)