Kepala ARC Syaifullah Muhammad Menjadi Konsultan ILO untuk Kajian Sistem Resi Gudang Nilam

Kabarnanggroe.com, ​JAKARTA – Sistem Resi Gudang (SRG) Nilam akan menjadi inovasi baru dalam peningkatan efektivitas dan efisiensi tata niaga dan stabilitas harga minyak nilam Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Konsultan ILO (International Labour Organization) untuk SRG Nilam Syaifullah Muhammad di Kantor Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI, Jakarta, pada Rabu (19/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Syaifullah Muhammad yang juga merupakan Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala, menyampaikan progres penyusunan dokumen kajian nilam untuk SRG yang telah mencapai 80%. Diperkirakan pada akhir September 2026 dokumen tersebut akan selesai dan diserahkan kepada ILO yang selanjutnya akan diteruskan ke Bappebti.

Rapat Koordinasi ini ​dihadiri Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan SRG Bappebti Diah Sandita Arisanti, serta jajaran staf Bappebti serta Ketua Divisi Riset dan Inovasi ARC Prof. Rina Sriwati.

​Sebagai konsultan, Syaifullah Muhammad dan tim mengemban tugas menyusun kajian komprehensif mengenai kelayakan minyak nilam agar dapat diserap dalam ekosistem SRG. Evaluasi dan analisis rantai pasok serta nilai komoditas nilam ini mencakup empat subsistem utama:
Pertama ​Subsistem Hulu (Upstream Off-Farm): Berfokus pada penyediaan bibit unggul spesies Nilam Aceh (Pogostemon cablin, Benth) beserta varietas turunannya seperti Lhokseumawe, Tapak Tuan, Sidikalang, Patchoulina-1, dan Patchoulina-2. Subsistem ini juga mengkaji pemanfaatan limbah padat penyulingan menjadi pupuk hayati (organik), serta pengolahan limbah cair penyulingan menjadi biopestisida guna melindungi tanaman dari penyakit.

Kedua ​Subsistem Budi Daya (On-Farm): Menganalisis sistem budi daya berkelanjutan, meliputi penyiapan dan kesesuaian lahan, komposisi nutrisi tanah, perawatan, pengendalian penyakit, teknik panen berulang, penanganan pascapanen, hingga penyimpanan terna nilam.

Berikutnya ​ketiga Subsistem Hilir (Downstream): Mengkaji penerapam teknologi pengeringan, pencincangan, penyulingan, pemurnian (purifikasi), formulasi produk turunan, efisiensi energi, hingga integrasi zero waste technology.

Dan terakhir yang keempat ​Subsistem Pendukung (Supporting Subsystem): Meliputi riset dan pengembangan, community development, capacity building, regulasi, iklim investasi, pembiayaan perbankan, standarisasi mutu, serta analisis ekonomi gudang sebagai inovasi tata niaga nilam.

​Ekosistem SRG Nilam dirancang terintegrasi untuk memperkuat posisi tawar produsen lokal. Melalui mekanisme ini, petani dan penyuling dapat menyimpan hasil panen minyak nilam mereka di gudang terakreditasi milik koperasi atau perusahaan pengelola saat harga pasar turun. Atas komoditas yang disimpan, pengelola gudang menerbitkan Resi Gudang yang dapat dijadikan jaminan ke lembaga perbankan mitra untuk memperoleh pembayaran minyak termasuk pembiayaan modal kerja. Bappebti berperan aktif dalam pengawasan sistem dan regulasi, sehingga jaminan ketersediaan stok terjamin untuk memenuhi permintaan market dan buyer internasional dengan harga yang stabil.

​”Sistem Resi Gudang (SRG) merupakan inovasi dan terobosan baru dalam sistem tata niaga industri nilam Indonesia. SRG bisa menjamin stok pasokan minyak nilam dan kepastian harga nilam rakyat,” ujar Konsultan ILO dan juga Kepala ARC Syaifullah Muhammad.

​Optimisme serupa disampaikan oleh pihak regulator. Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan SRG Bappebti, Diah Sandita Arisanti, menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan dalam mengawal regulasi penambahan komoditas SRG nilam. Beliau optimis bahwa implementasi SRG Nilam akan berjalan sukses mengingat nilam merupakan komoditas unggulan atsiri Indonesia yang memiliki daya saing tinggi di pasar global.(*)