Kabarnanggroe.com, Aceh Besar — Semua manusia memiliki peluang yang sama supaya memperoleh keberuntungan di dunia dan di akhirat, dengan syarat mampu menghadirkan Allah dalam setiap kesempatan dan terus berbuat kebaikan. Kemampuan menghadirkan Allah dalam setiap keadaan dipraktekkan Nabi Yusuf yang dikisahkan dalam Al-Quran, bagaimana Nabi Yusuf dengan anugerah kesempurnaan atau ketampanan fisik, namun mampu menghadirkan Allah saat godaan seorang perempuan cantik penuh pesona, istri penguasa, dan juga kaya raya.
Beliau sebagai manusia sebenarnya juga berhasrat, tetapi kemampuannya menghadirkan Allah dan keyakinannya bahwa Allah Maha Melihat apa yang dikerjakan, menyebabkan beliau mampu melawan atau menolak godaan perempuan bertahta dan jelita.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si IPU ASEAN Eng, menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas LAN Aceh Gampong Lamcot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, 17 Juli 2026 bertepatan 3 Safar 1448 Hijriah.
Allah Swt menggambarkan dalam Al-Quran pada surah Yusuf, ayat 23: “Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata: “marilah mendekat pada ku”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah”. Kisah di ayat ini mengambarkan bagaimana kokohnya iman Yusuf untuk tidak mengambil kesempatan itu, meskipun dalam ruang itu hanya tinggal berdua, Yusuf dan Zulaikha.
Pertanyaannya, ungkap Prof Agussabti, bagaimana kalau kondisi itu terjadi terjadi pada kita? Sanggupkah kita seperti Yusuf? Ketika ada kesempatan, sanggupkah menahan godaan wanita, sanggup terhadap godaan harta untuk tidak korupsi? Banyak berita media yang mengugah hati nurani kita. Contohnya, pejabat korupsi ratusan milyar, terlibat perbuatan asusila dengan wanita, yang menjurumuskan dia pada kerugian dan kehinaan dunia akhirat.
“Kenapa hal ini terjadi? Karena kita gagal menghadirkan Allah dan yakin bahwa Allah Maha Melihat perbuatan kita,” unagkapnya.
Prof Agussabti menambahkan, kehebatan Nabi Yusuf tidak hanya memiliki kemampuan menghadirkan Allah dalam setiap keadaan tapi beliau juga berpegah teguh pada nilai moral untuk tidak mengkhiatati amanah tuannya yang telah membesarkannya (Surah Yusuf, lanjutan ayat 23): Sesungguhnya dia (suamimu) adalah tuanku. Dia telah memperlakukanku dengan baik.
“Sesungguhnya orang yang zalim yang tidak beruntung. Bagaimana Yusuf memiliki moral untuk berterima kasih terhadap orang yang telah membesarkannya. Inilah akhlak yang mulia, yang pada akhir membuat Nabi Yusuf kemudian dipercaya menjadi bendahara negara sehingga mengantarkannya beruntung di dunia dan mulia di akhirat,” ujarnya.
Menurut Prof Agussabti, fenomena saat ini sering orang lupa membalas jasa orang yang telah membesarkannya. Kadang kalanya, kita sering mengkhiati dan berbuat zalim pada yang membesarkannya. Ketika orang yang membantu kita tidak berkuasa lagi, maka langsung membelakanginya; lupa pada jasanya dan kebaikannya. Padahal setiap kondisi akan berganti, dan apa yang dimiliki tidaklah abadi.
“Kesimpulannya, belajar dan merenung dari apa yang sering terjadi, maka hanya orang-orang yang mampu menghadirkan Allah, berintegritas dan selalu berpegang teguh pada akhlak mulia pada segala keadaan yang akan selamat, meskipun kadang kala pada awalnya sering sengsara, namun pada akhirnya pasti akan beruntung dan mulia di dunia dan akhirat,” pungkasnya. (Herman/Sayed M. Husen)






