Kabarnanggroe.com, Kutacane – Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Aceh Tenggara, Khairul Abdi, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya sebatas program pemenuhan nutrisi bagi masyarakat, tetapi telah berkembang menjadi motor penggerak ekonomi di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara).
Pernyataan tersebut disampaikan Khairul Abdi saat bersilaturahmi bersama insan pers dan sejumlah LSM di Om Caffe, Kutacane, Selasa (17/02/2026). Dalam suasana diskusi yang hangat dan terbuka, berbagai isu strategis terkait pelaksanaan MBG dibahas secara konstruktif, mulai dari dampak sosial, serapan tenaga kerja, hingga aspek pengawasan dan transparansi anggaran.
Menurut Khairul Abdi, hingga saat ini pelaksanaan MBG di Aceh Tenggara telah menyerap sekitar ±3.000 tenaga kerja lokal. Ribuan pekerja tersebut terlibat dalam berbagai lini, mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan dan pengemasan makanan, distribusi, hingga pengelolaan dapur.
“Kurang lebih tiga ribu tenaga kerja kini terlibat dalam program MBG di Agara. Ini bukan angka kecil. Artinya, ribuan keluarga ikut merasakan manfaat ekonomi dari program ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak program tidak hanya dirasakan oleh para penerima manfaat makanan bergizi, tetapi juga oleh pelaku UMKM, petani lokal, pemasok bahan pangan, hingga pekerja harian lepas yang terlibat dalam operasional dapur. Perputaran ekonomi yang tercipta dari MBG dinilai mampu meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menggerakkan sektor usaha mikro di daerah.
Lebih lanjut, Khairul Abdi menegaskan komitmennya sebagai pengawas sekaligus perpanjangan tangan kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam memastikan program MBG berjalan tepat sasaran di Aceh Tenggara. Ia menyebut, pengawasan yang ketat dan berkelanjutan menjadi kunci agar program nasional tersebut benar-benar memberi manfaat maksimal bagi masyarakat.
“Sebagai bagian dari pengawas program di daerah, kami memastikan pelaksanaan MBG sesuai standar yang ditetapkan. Ini adalah program strategis dari Bapak Presiden Prabowo, dan kami di daerah bertanggung jawab mengawal agar berjalan transparan, profesional, dan berpihak pada rakyat,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Khairul Abdi juga memaparkan komposisi penggunaan anggaran program MBG secara terbuka. Sekitar Rp10.000 dialokasikan untuk bahan baku makanan, sementara Rp5.000 digunakan untuk gaji karyawan serta operasional tenaga kerja. Transparansi ini, menurutnya, penting untuk menjaga kepercayaan publik serta mencegah munculnya spekulasi atau kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kita ingin semuanya berjalan terbuka dan akuntabel. Program ini harus kita jaga bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat, media, serta LSM untuk aktif melakukan pengawasan partisipatif. Jika ditemukan dapur MBG yang tidak memenuhi standar kebersihan, kelayakan, maupun kualitas pelayanan, ia meminta agar segera dilakukan evaluasi dan pembenahan.
“Kalau ada yang kurang layak, kita benahi bersama. Jangan sampai program ini terhambat karena kelalaian atau kurangnya pengawasan. Sinergi semua pihak sangat penting,” tambahnya.
Silaturahmi di Om Caffe tersebut menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara penyelenggara program dan elemen masyarakat sipil. Dengan sinergi yang solid, Program Makan Bergizi Gratis di Aceh Tenggara diharapkan terus berjalan optimal, transparan, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi instrumen nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat fondasi ekonomi daerah. (Akbar)






