Daerah  

Geliat Usaha Pandai Besi Ditengah Perkembangan Zaman

Zakaria (35) seorang perajin pandai besi sedang memproduksi sebuah pisau pemotong ikan, Aceh Besar, Darul Imarah, Kamis (16/2/2023). FOTO/DJ88

Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Cahaya arang dari Pandai besi tak seperti silaunya rezeki pandai besi saat ini. Tapi usaha kerajinan pandai besi yang memproduksi parang dan pisau masih tetap bertahan di Kabupaten Aceh Besar walaupun bersaing di tengah maraknya produk pabrikan.

“Permintaan parang dan pisau dari masyarakat masih ada, biarpun kami harus bersaing dengan barang buatan dari pabrik, karena hasil dari pabrik harganya murah. Walaupun begitu usaha pandai besi tetap bertahan karena masih ada permintaan,” kata Zakaria (35) seorang perajin pandai besi Gampong Lagang Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Kamis (16/2/2023).

Menurut Zakaria, usaha yang mereka geluti masih bisa bertahan sampai saat ini karena kualitas produksi yang dihasilkan bisa digunakan bertahun-tahun.

“Kami menjaga kualitas barangnya, apabila ada yang beli. Ini yang kami jaga, sehingga usaha pandai besi masih bisa bertahan hingga kini,” sebut dia.

Ia mengatakan, usaha ini ada yang berkelompok dan ada juga perorangan. Tapi setiap orang harus memiliki tungku sendiri biar mudah proses pekerjaannya.

“Biasanya, setiap pekerja mampu memproduksi dua sampai tiga parang setiap hari. Harganya berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu. Nah, bila pisau yang saya produksi ini harga sekitar Rp 80 ribu. Tapi itu belum bersih, nanti potong lagi buat modal,” sebut Zakaria.

Mengenai pemasaran, ia menyebutkan, sudah ada penampungnya (Toke-red). Kemudian penampung menjualnya hasil produksi di seluruh wilayah Provinsi Aceh khususnya wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Produk kami biasanya dijual di pasar-pasar di Banda Aceh dan Aceh Besar. Terutama saat hari pekan tradisional seperti Pasar Sibreh Suka Makmur dan ada juga yang menjual ke daerah lain,” pintanya.

Selain itu, Gampong (Desa-red) Lagang Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, merupakan salah satu Gampong yang dikenal sebagai Gampong pandai besi.

“Untuk Keahlian pandai besi yang kami dapatkan secara turun temurun. Saya belajarnya saat masih duduk di bangku Sekolah SMP, pada waktu itu saya masih belajar produksi pisau dapur, tapi sudah bisa menghasilkan rezeki walaupun belum besar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kami sangat berharap kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk memberikan dukungan dan perhatian kepada perajin usaha pandai besi, apalagi ditengah perkembangan zaman seperti ini.

“Ya, kami butuh perhatian dari Pemerintah, terutama modal, kalau bisa kami diberika modal usaha dan pelatihan, agar usaha pandai besi bisa bertahan dan bisa menjadi sebuah ikon di Kabupaten Aceh Besar,” pungkasnya (Dj)