Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Bantuan genset untuk membantu penerangan korban banjir belum juga masuk ke posko pengungsi di Aceh Tamiang.
Diduga, bantuan genset dari berbagai kalangan di luar Aceh terus mengalir ke Aceh, tetapi belum diketahui keberadaannya.
Para pemberi bantuan dari luar Aceh, pasti mengetahui salah satu bantuan yang dibutuhkan pengungsi, mesin pembangkit listrik berdaya kecil.
Tetapi, tentunya dibutuhkan bensin atau solar untuk menghidupkan genset, sesuatu hal yang masih sulit didapat di daerah terdampak parah banjir bandang dan longsor, seperti Dataran Tinggi Gayo (DTG), walau suplai BBM via udara.

Sedangkan wilayah pesisir yang terdampak, BBM relatif lebih aman. Sehingga genset sangat dibutuhkan oleh pengungsi yang berada di tempat lebih aman, seperti masjid, sekolah dan lainnya.
Sementara itu, ada pihak yang membantu energi listrik tanpa BBM yaitu PT Pertamina (Persero) memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sejumlah titik posko pengungsi di wilayah Aceh Tamiang.
“Bantuan PLTS ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). PLTS mulai menerangi posko pengungsian Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, sejak Sabtu (13/12/2025),” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron dalam keterangan diterima di Banda Aceh, Minggu (14/12/2025).
Dia menyebutkan tujuh paket PLTS masing-masing unit berkapasitas 590 Wp (Watt peak), inverter 1.000 Wp (Watt peak), baterai 2.000 Wh (Watt hour) serta tujuh paket Solar LED 40 watt yang didatangkan langsung dari Jakarta.
Pemasangan instalasi PLTS melibatkan teknisi Perwira Pertamina Peduli yang merakit beberapa komponen PLTS, hingga listrik bisa menerangi tenda pengungsian.
“Program ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana di Aceh Tamiang. Pertamina menyalurkan bantuan PLTS ini guna mendukung pemulihan kondisi darurat pascabencana,” kata Baron.
Baron menambahkan, hadirnya PLTS di pengungsian sangat membantu pengungsi dan relawan terutama untuk penerangan aktivitas di malam hari, sekaligus sebagai sarana untuk menambah daya baterai telepon seluler sebagai sarana komunikasi utama. Setiap unit PLTS dapat menyala selama 8 jam per hari.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Relawan Pertamina Peduli M. Abassi Ali Bilhadj mengatakan, proses perakitan PLTS berlangsung selama 2 jam, dan setelah diuji coba langsung menyala.(Muh/*)






