Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, Syaiful Bahri mendorong masyarakat mengembangkan bisnis peternakan ayam petelur lewat skema pemberdayaan UMKM yang terencana, sebagai solusi ekonomi bangkit pasbencana hidrometeorologi.
“Jadi saya coba menciptakan UMKM di bidang ayam petelur. Dari pilot project ini saya bersedia atau siap untuk mengajarkan kepada warga Aceh Tamiang yang ingin budidaya sektor peternakan ayam petelur,” kata Syaiful Bahri, di Aceh Tamiang, Jumat (13/2/2026).
Pernyataan itu disampaikan Syaiful Bahri di sela-sela kegiatan panen telur ayam perdana di usaha peternakan ayam Kampung (Desa) Air Masin, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang.
Karena melihat ada prospek ekonomi, maka dirinya ingin mengajak masyarakat Aceh Tamiang yang baru tertimpa musibah banjir bandang untuk bangkit, salah satunya dengan mengembangkan UMKM ayam petelur.
“Saya pribadi bersedia berbagi ilmu bagi warga yang ingin datang belajar cara budidaya ayam petelur,” ujarnya.
Syaiful sendiri kini memiliki lima kandang ayam tipe V berkapasitas 21 ribu ekor, sejauh ini baru dua kandang yang terisi ayam sekitar 10 ribu ekor. Dari total 10 ribu ekor tersebut, 3.000 diantaranya merupakan induknya.
Alhamdulillah sudah 3.000 (30 persen) ekor ayam yang mulai bertelur dan setiap minggu meningkat terus. Insya Allah dua minggu kedepan sudah diatas 80 persen jumlah ayam bertelur. Jadi kalau 80 persen, sudah bisa menghasilkan telur 4.000 butir per hari,” katanya.
Dirinya menyatakan, sektor peternakan ayam petelur yang dibangun di pesisir Seruway, Aceh Tamiang merupakan hasil studi bandingnya awal 2025 lalu ke Kabupaten Langkat dan Deli Serdang di lokasi sentra peternakan Sumatera Utara.
Kemudian, diimplementasikan di daerah sebagai percontohan untuk masyarakat Aceh Tamiang. Kini, bisnis tersebut menjadi yang pertama dikembangkan di sana.
“Selama ini sering dihantui ketakutan selalu mengalami rugi. Nah, jadi kerugian itu tergantung manajemen yang kita terapkan dalam usaha kita,” ujarnya.
Ia menyarankan, untuk membangkitkan UMKM di tengah masyarakat yang penuh keterbatasan pascabencana, dan bisa dilaksanakan dengan skema kerjasama pemerintah kabupaten atau legislatif.
Artinya, masyarakat menyediakan kandang secara mandiri, kemudian Pemda mengucurkan bantuan pakan dan obat-obatan. Sementara DPRK Aceh Tamiang melalui program pokir/aspirasi dapat menyalurkan batuan bibit ayam (pullet).
“Kita mau setiap bantuan itu bisa tepat sasaran supaya masyarakat ini bangkit. Jadi kalau dalam usaha ini masyarakat kita minta berkembang dengan sendirinya saya rasa juga itu berat secara umum. Karena ini kalangan usaha UMKM menengah,” demikian Syaiful Bahri.(Muh/*)






