Amran Blusukan ke Perkebunan Kopi di Aceh, Beri Kabar Baik ke Petani

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman saat meninjau pembibitan kopi di Rimba Raya KM 60, Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman saat meninjau pembibitan kopi di Rimba Raya KM 60, Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7/2026). FOTO/CNBC Indonesia

Kabarnanggroe.com, Takengon – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengklaim program hilirisasi perkebunan, termasuk pengembangan kopi yang dijalankan Kementerian Pertanian berhasil mendongkrak kesejahteraan petani di Aceh.

Berdasarkan laporan pemerintah daerah, program tersebut bisa meningkatkan pendapatan petani hingga Rp4 triliun, seiring melonjaknya harga kopi Gayo yang kini mencapai Rp110 ribu per kilogram (kg).

Amran mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil pengembangan kopi di sejumlah sentra produksi di Aceh, khususnya Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wakil Gubernur Aceh, kepada para Bupati, khususnya Bupati Bener Meriah, Bupati Aceh Tengah, Gayo Lues. Nah ini luar biasa hasil kerja kita. Kopi kita tanam, laporannya Pak Bupati tadi itu bisa meningkatkan pendapatan petani, pekebun di sini Rp4 triliun,” ujar Amran saat meninjau pembibitan kopi di Rimba Raya KM 60, Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7/2026).

Ia juga optimistis kopi Gayo akan semakin berjaya di pasar dunia. Menurutnya, nilai ekspor kopi Indonesia yang saat ini mencapai Rp40 triliun per triliun (tahun 2025) masih bisa terus ditingkatkan.

“Ini kopi Gayo kita antar sekarang ini sudah mengglobal. Jadi bagaimana kopi Gayo menggetarkan dunia, bila perlu seluruh dunia ini mencicipi kopi Gayo,” ujarnya.

“Ekspor kita sudah mencapai nilainya Rp40 triliun, kalau bisa kita tingkatkan sampai Rp100 triliun ke depan, bila perlu Rp200 triliun. Dan itu pasti bisa, itu pasti bisa,” lanjut dia.

Menanggapi keluhan soal harga kopi di tingkat petani yang terbilang murah, Amran justru menyebut harga kopi Gayo saat ini mengalami kenaikan signifikan dibanding sebelumnya.

“Nah ini tadi kami dengar harganya justru Rp110.000 per kg, dulu Rp50.000 (per kg). Nah ini harga naik, ini harga harus dijaga,” ucap Amran.

Menurutnya, kebijakan pemerintah yang akan menerapkan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), diharapkan membuat Indonesia memiliki posisi tawar lebih kuat dalam menentukan harga komoditas di pasar global.

“Apalagi nanti ke depan ini kebijakan Bapak Presiden (Prabowo Subianto), ke depan ekspor-ekspor kita satu pintu. Kenapa satu pintu? Supaya kita yang bisa menjadi penentu harga, bukan konsumennya yang menentukan, tapi produsennya menentukan, yaitu Indonesia,” tuturnya.

Kementan Salurkan 17 Juta Bibit Kopi

Dalam kesempatan yang sama, Amran mengungkapkan, Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan pengembangan kopi seluas 17.300 hektare atau sebanyak 17 juta batang bibit kopi untuk seluruh Aceh. Program tersebut akan kembali diperluas pada 2027.

“Itu kita berikan totalnya (jadi) 17.300 hektare, dengan jumlah batang 17 juta kopi untuk seluruh Aceh,” kata Amran.

“Insyaallah tahun depan kita akan tingkatkan, yang penting ini dirawat dengan baik. Ini luar biasa betul-betul dikawal. Pembibitannya sangat bagus, kami sangat puas. Juga PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), saya terima kasih. Ini bekerja dengan baik,” ujarnya.

Amran juga mengajak seluruh pemangku kepentingan di Aceh terus mendorong pengembangan kopi Gayo, agar semakin meningkatkan kesejahteraan petani.

“Potensinya besar, masyarakatnya baik-baik, masyarakatnya pekerja keras. Ayo kita bangun Aceh, sejahterakan petani lewat kopi Gayo yang sudah mendunia. Tinggal kita dorong sekarang,” pungkasnya.(Muh/*)

Exit mobile version