Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Aceh memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat besar, mencapai 25,31 GW, terutama dari energi panas bumi (geothermal), surya, hidro, dan angin. Saat ini, pemanfaatan EBT di Aceh terus dikembangkan, termasuk PLTP Jaboi (6,19 MW), rencana PLTA Peusangan dan Kombih 3, serta PLTS di wilayah terpencil.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh Asnawi, ST, M.S.M menjelaskan potensi dan pemanfaatan EBT di Aceh meliputi Energi Panas Bumi (Geothermal), dimana Aceh memiliki potensi panas bumi yang signifikan, dengan PLTP Jaboi di Sabang (6,19 MW) sudah beroperasi dan PLTP Seulawah Agam (2 x 55 MW) sedang dalam tahap pengembangan.
Energi Air (Hidro) “Potensi hidro menjadi salah satu fokus utama dengan pengembangan PLTA Peusangan dan PLTA Kombih 3 yang diproyeksikan menambah kapasitas EBT secara signifikan,” katanya.
Sedangkan Energi Surya dan Angin dengan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan kincir angin sedang diupayakan untuk meningkatkan bauran energi bersih. Bioenergi: Limbah industri kelapa sawit di Aceh memiliki potensi besar sebagai sumber energi berbasis bioenergi.
Pembangkit Hibrid (PLTH): Pemanfaatan PLTH diterapkan di wilayah terpencil seperti Pulau Pusong untuk mengurangi ketergantungan pada diesel. “Pemerintah Aceh dan PLN terus mendorong percepatan transisi energi ini untuk mendukung target nasional dan meningkatkan rasio elektrifikasi di wilayah tersebut,” ujarnya.

Disampaikannya, pengembangan EBT ini sejalan dengan upaya transisi energi dari fosil menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
DESDM Aceh tetap milki komitmennya untuk memperkuat pengelolaan sektor energi serta mempercepat pengembangan energi bersih di Aceh. Meskipun potensi ini sangat besar, pemanfaatan dan realisasinya masih dalam tahap pengembangan.
“Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tantangan perubahan iklim global, pemanfaatan energi terbarukan menjadi langkah strategis untuk memastikan ketersediaan energi yang ramah lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan energi daerah,” tuturnya.
Pemerintah Aceh melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh terus mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan di daerah.
Sejak dilantik oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf pada 27 Februari 2026, Kepala Dinas ESDM Aceh Asnawi, ST, M.S.M menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengelolaan sektor energi serta mempercepat pengembangan energi bersih di Aceh.
Menurut Asnawi, potensi energi terbarukan Aceh sangat besar dan dapat menjadi salah satu kekuatan utama bagi pembangunan ekonomi daerah di masa depan.
“Energi baru dan terbarukan bukan hanya menjadi alternatif, tetapi juga menjadi kebutuhan bagi masa depan pembangunan Aceh. Potensi yang kita miliki harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Energi Air
Kondisi geografis Aceh yang didominasi kawasan pegunungan menjadikan wilayah ini memiliki banyak sungai yang mengalir sepanjang tahun. Sungai-sungai tersebut menyimpan potensi energi air yang sangat besar untuk pembangkit listrik.
Energi air merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang paling stabil dan ramah lingkungan. Melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), aliran sungai dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik secara berkelanjutan.
Sejumlah wilayah seperti Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan memiliki potensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga air.
Energi Matahari
Selain energi air, Aceh juga memiliki potensi besar dalam pemanfaatan energi matahari. Sebagai wilayah yang berada di kawasan tropis, Aceh menerima sinar matahari hampir sepanjang tahun.
Teknologi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kini semakin berkembang dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai skala, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pembangkit listrik skala besar.
Pemanfaatan panel surya juga menjadi solusi bagi wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik utama.
Program pembangunan PLTS di sejumlah desa di Aceh telah membantu menyediakan listrik bagi masyarakat yang sebelumnya bergantung pada generator berbahan bakar minyak.
Selain lebih ramah lingkungan, energi surya juga dapat mengurangi biaya energi bagi masyarakat.
Energi Panas Bumi
Potensi energi terbarukan Aceh tidak hanya berasal dari air dan matahari. Wilayah ini juga memiliki potensi energi panas bumi yang cukup besar.
Energi panas bumi merupakan sumber energi yang sangat stabil karena tidak bergantung pada kondisi cuaca.
Beberapa wilayah di Aceh yang memiliki potensi panas bumi antara lain kawasan Seulawah Agam di Aceh Besar serta kawasan Burni Telong di Bener Meriah.
Jika potensi ini dapat dikembangkan secara optimal, energi panas bumi dapat menjadi salah satu sumber energi utama yang mendukung ketahanan energi daerah.
Energi Biomassa
Aceh juga dikenal sebagai daerah dengan sektor pertanian dan perkebunan yang cukup luas. Aktivitas pertanian menghasilkan berbagai jenis limbah organik yang sebenarnya memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif.
Melalui teknologi biomassa, limbah pertanian seperti sekam padi, limbah kelapa sawit, maupun sisa tanaman dapat diolah menjadi bahan bakar energi.
Pemanfaatan biomassa tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian serta mengurangi limbah yang mencemari lingkungan.
Dengan pemanfaatan yang tepat, sektor pertanian dapat menjadi salah satu sumber energi alternatif yang mendukung pembangunan berkelanjutan.(**)






