Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Para pemain sepak bola Pra PORA Aceh Besar mulai berlatih skill mengolah si kulit bundar dan kekompakan tim dalam menyerang dan bertahan di Lapangan PS Lubuk, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (8/5/2025) sore.
Pelatihan yang dipimpin Mukhlis Nakata didampingi M Hidayat diawali dengan pemanasan, seperti berkeliling lapangan yang dilanjutkan dengan sprint jarak pendek secara bergantian antara pemain.
Pada pekan ini, pola pelatihan sudah memasuki strategi bermain dengan tetap menjaga kekompakan tim dalam menguasai bola jarak dekat. Sekali-sekali terdengar suara riuh rendah saat berhasil menggagalkan operan satu tim dan langsung berganti ke tim lainnya untuk melakukan passing bola.
Nakata yang masih aktif bermain menunjukkan cara yang tepat saat melakukan passing ke rekannya, sehingga mudah diterima. Jika ada pemain yang gagal, maka diminta untuk mengulangi lagi sampai berhasil.
Passing atau mengoper bola merupakan teknik dasar dalam sepak bola yang digunakan untuk memindahkan bola dari satu pemain ke pemain lainnya. Namun, teknik ini berperan penting dalam membangun serangan, menciptakan peluang gol, dan mempertahankan daerah pertahanan.

Pada latihan kali ini, passing masih sebatas memindahkan bola ke pemain lain yang lebih baik posisi atau lebih terbuka dalam jarak dekat antara dua pemain. Sentuhan satu dua terus ditunjukkan, sehingga seluruh pemain yang berlatih pada hari itu dapat memperagakannya dengan baik.
Pelatihan berikutnya, kelanjutan dari latihan sebelumnya, membentuk satu tim penyerang dan satu tim bertahan. Operan bola melalui passing pada latihan sebelumnya diperagakan dalam show game ini.
Jika ada pemain yang terlalu lama menguasai bola, maka Nakata langsung menghentikan latihan dan menunjukkan cara passing bola dengan hadangan tim lain. Dia berulang kali berteriak keras agar pemain memperhatikan saat melakukan operan bola, sehingga bisa dengan mudah diterima rekannya.
Show game ini yang berlangsung lebih dari 20 menit berlangsung dengan serius, walau sekali-kali muncul kejengkelan seorang pemain saat rekannya gagal mengoper bola dengan cepat, sehingga harus berganti menjadi tim penghadang bola.
Ada juga pemain merasa bosan, operan bola tak sampai juga ke dirinya. Melihat hal itu, pelatih Nakata kerap bersuara untuk mengisi area kosong dan memanfaatkan lebarnya lapangan, tidak terpaku di satu sisi saja.
Dalam latihan passing bola, baik Nakata maupun Hidayat turut bermain untuk memberi contoh kepada para pemain yang rata-rata masih berusia muda. Seusai tampak kelelahan, seiring Magrib hampir tiba, para pemain mengakhiri latihan dengan gembira.

Sedangkan pelatih kiper, Rahmanuddin memberi pelatihan kepada tiga kiper, mulai dari dasar yakni pergerakan kiper dengan cepat saat mengantisipasi tendangan bola ke dalam gawang.
Berbagai skema diterapkan oleh Rahmanuddin kepada tiga kiper secara bergantian. Seperti menangkap bola langsung, bola pantulan dan bola liar di seputaran gawang.
Dia beberapa kali memperingatkan kiper agar bergerak lebih sigap dan cepat dalam menangkap bola. Bahkan, dia menegaskan jika ingin menjadi kiper, maka harus berlatih dengan serius.
Pada akhir sesi latihan, kiper diberi pelatihan cara mengantisipasi tendangan bebas dari sayap dan juga tendangan langsung dari depan kotak 12 pas. Dalam latihan ini, kiper masih belum sigap menangkap bola, seperti tangkapan lepas dari genggaman yang biasa menjadi blunder dalam sebuah laga resmi.

Rahmanuddin yang merupakan mantan kiper Persiraja dan sejumlah klub liga di Indonesia tak bosan-bosannya memberi pengarahan kepada kiper, sehingga gawangnya bisa selamat dari kebobolan.
Tetapi, seiring pelatihan baru beberapa kali, maka kesigapan kiper dalam mengamankan bola masih perlu dipertajam, sehingga tidak jadi bumerang bagi para pemain yang berjuang di lapangan.
Keterpaduan dalam bermain sepak bola, kiper dan pemain saling memahami posisi masing-masing saat menghadapi gempuran tim lawan. Sehingga, dalam latihan kelompok, kiper juga dimainkan, bagian dari cara passing bola saat dihadang pemain lawan.

Latihan pemain Pra PORA Aceh besar akan terus dilanjutkan dengan ketahanan fisik selama dua hari dengan tempat dan jadwal akan ditentukan kemudian. Salah satunya di bibir pantai dan satunya lagi di jalanan berbukit, dengan tujuan fisik pemain akan terus meningkat.
Yang tak kalah serunya, pelatihan di barak militer, seperti pelajar nakal di Jawa Barat. Tetapi, pemain sepak bola Pra PORA Aceh Besar tidak nakal, hanya untuk memperkuat mental dan juga fisik, sehingga siap bertarung selama 90 menit di lapangan.(Muh)






