Kabarnanggroe.com, Jakarta – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan memperkenalkan wajah baru yang mengusung konsep ‘Religius Modern’. Konsep ini diambil berdasarkan observasi terhadap kondisi warga Pasuruan.
Konsep tersebut juga dihasilkan dari penelitian terpadu yang menggabungkan beberapa metode antara Pemkot Pasuruan bersama lembaga profesional LOGITERA.
Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menegaskan penelitian temuan untuk branding kota ini penting guna memperkuat identitas diri dari wilayah yang dipimpinnya.
“Religius bukan berarti statis, modern bukan berarti tercerabut dari akar. Pasuruan menunjukkan keduanya menyatu dalam kehidupan warganya,” kata Adi lewat keterangan tertulis, Minggu (8/2/2026).
Diketahui, dalam penelitian tersebut salah satu metode yang digunakan adalah survei persepsi dari warga. Sebanyak 73,5 persen koresponden atau warga menyebutkan keunikan Pasuruan terletak pada nuansa religiusnya.
Lalu, sebanyak 58,4 persen memilih kata religius, santri, dan berkah sebagai frasa paling tepat menggambarkan kota. Sementara itu sebanyak 41,8 persen langsung mengingat santri, KH Abdul Hamid, serta Payung Madinah di alun-alun ketika nama Pasuruan disebut.
Namun penelitian yang sama juga menunjukkan sisi lain Pasuruan, yakni sebagai kota yang hidup. Warga menyebut alun-alun dan tugu kota sebagai ruang interaksi yang aktif; pesisir, nelayan, dan pelabuhan sebagai denyut perekonomian sehari-hari; serta bipang/jipang sebagai kuliner warisan yang terus diproduksi dan diperdagangkan.
Kemudian, Pasuruan juga dikenal sebagai kota yang majemuk, tempat beragam latar sosial yang berdampingan. Dari situ muncul kata ‘Modern’, yakni Pasuruan dipersepsikan sebagai ruang publik yang dinamis, ekonomi rakyat yang berjalan, dan masyarakat yang terbuka.
Temuan-temuan ini kemudian dirangkum menjadi enam simbol identitas yakni spiritualitas, pesisir-bahari, tugu kota, kemajemukan warga, kuliner khas, dan lanskap laut yang membentuk Sistem Bahasa Visual Pasuruan.
Adi menyebut branding kota ini diposisikan bukan sekedar logo baru. Tetapi juga menjadi pijakan strategi untuk memperkuat berbagai kebijakan.
“Pijakan strategi untuk memperkuat pariwisata, ekonomi kreatif, komunikasi publik, dan promosi investasi daerah. memperkuat pariwisata, ekonomi kreatif, komunikasi publik, dan promosi investasi daerah,” ujarnya.
Sementara itu peneliti LOGITERA, Adi F. Nugrotomo menyampaikan pentingnya menggali persepsi warga dan akar sejarah sebagai bagian tak terpisahkan dalam merumuskan branding untuk Kota Pasuruan ini.
“Kami tidak memulai dari desain, melainkan dari ingatan warga. Ketika ingatan kolektif mengarah pada religiusitas, dan pada saat yang sama warga menggambarkan kotanya sebagai ruang yang hidup dan terbuka, maka ‘Religius Modern’ adalah simpulan empiris, bukan slogan kreatif,” tutur dia.
Sosialisasi terkait penelitian temuan ini juga sudah dilakukan kepada seluruh jajaran aparatur pemerintahan di Kota Pasuruan dalam acara rangkaian Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pasuruan Tahun 2025-2029 pada pertengahan 2025 lalu.
Ke depan, identitas visual Religius Modern akan hadir secara bertahap di ruang-ruang publik, dokumen resmi, materi promosi, serta kolaborasi dengan komunitas dan pelaku usaha lokal.(Muh/*)






