Banda Aceh – Adat kenduri blang atau sawah di Kluet, Aceh Selatan yang terus dilaksanakan sebagai ungkapan doa memohon keselamatan dan keberkahan atas hasil produksi padi, mulai dari sebelum sampai setelah panen padi.
Kegiatan ini dibagi atas tiga bagian meliputi Kenduri Kani yakni mengantar bubur ke sawah saat padi baru berumur sekitar satu atau dua bulan dengan masing-masing petani mengantar bubur ke sawah, dipimpin oleh juru biyo atau kejruen blang
Kemudian, Kenduri Sawah saat padi mulai berisi bulir padi dan namanya bisa berbeda di tiap daerah untuk memanjatkan doa agar pertumbuhan tanaman padi berjalan baik dan sebagai simbol rasa syukur terhadap tahap awal pertumbuhan padi.
Ketiga atau terakhir, Kenduri Pade Baro syukur atas panen di rumah masing-masing dan ritual ini sebagai perwujudan rasa syukur dan doa kepada Allah SWT. Prosesi yang memiliki nama berbeda di setiap daerah, seperti Keunduri Geuba Geuco di Aceh Besar, Kenduri Adam di Aceh Utara, dan Kenduri Dara Pade di Pidie.
Filosofi dasar atas kenduri ini sebagai rasa syukur dan doa kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan, sekaligus menunjukkan pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan Juga sebagai identitas budaya sebagai media pelestarian budaya yang efektif untuk menjaga identitas kepada generasi muda suku Kluet
Selain itu, akan menumbuhkan solidaritas sosial tinggi, untuk mencerminkan nilai gotong-royong dan solidaritas dalam komunitas petani di sebuah wilayah. Seperti salah satu wilayah di Kabupaten Aceh Selatan yang tetap memegang teguh tradisi adat ini.
Dilaksanakan secara bertahap di sawah yang mencerminkan kekayaan budaya dan spiritualitas yang diwariskan turun-temurun sehingga, saat mulai dari penanaman benih hingga panen padi, tetap diiringi dengan upacara adat yang khas.
Seorang pegiat budaya dan adat Kluet, Syahrul Amin beberapa waktu lalu menjelaskan pentingnya tahapan adat ini dalam kehidupan masyarakat Kluet. Dikatakan, adat sawah bukan sekadar seremonial, tetapi merupakan wujud syukur dan doa kepada Allah SWT atas berkah yang diberikan.
Dengan harapan, melalui upacara ini, hasil panen padi akan melimpah dan penuh dengan berkah. Dia menjelaskan, tahapan pertama yang digelar adalah Kenduri Ule Lhueng atau Babah Lhueng, dilakukan saat air pertama kali dialirkan ke sawah.

Prosesi ini diadakan dengan meriah di area alur sawah, dan biasanya melibatkan pemotongan hewan kerbau sebagai simbol pengorbanan. “Kenduri Ule Lhueng sebagai momen penting dan awal dari kehidupan di sawah, dan kami berharap air yang mengalir membawa berkah dan kesuburan,” katanya.
Ketika padi sudah berumur satu hingga dua bulan, suku Kluet menggelar Kenduri Kanjipada. Berbeda dengan Kenduri Ule Lhueng, upacara ini dilakukan dengan sederhana, cukup membawa bubur ke sawah. Namun, prosesi ini tetap memiliki aturan ketat.
“Bubur yang dibawa ke sawah harus dipimpin oleh kejruen blang atau juru biyo, pemimpin yang mengurusi bidang pertanian,” jelas Syahrul. Tradisi ini dilanjutkan dengan Kenduri Sawah saat padi mulai berisi atau membunting. Di beberapa daerah di Aceh, kenduri ini memiliki penyebutan yang berbeda.
Di Aceh Besar disebut Keunduri Geuba Geuco, di Aceh Utara disebut Kenduri Adam, dan di Aceh Pidie dikenal sebagai Kenduri Dara Pade. “Meskipun berbeda nama, esensinya tetap sama, yaitu memohon berkah dan kesuburan bagi tanaman padi kami,” ujar Syahrul.
Saat padi sudah dipotong atau dituai, diadakan Kenduri Pade Baro. Kenduri ini dilaksanakan secara sederhana oleh masing-masing petani di rumah mereka. “Kenduri ini adalah bentuk syukur kami atas hasil panen yang telah diberikan. Ini adalah momen untuk menikmati hasil jerih payah kami selama ini,” kata Syahrul dengan senyum bahagia.
Suku Kluet yang mayoritas beragama Islam, menganggap upacara-upacara tersebut bukan sebagai persembahan untuk dewa-dewa, melainkan sebagai doa dan rasa syukur kepada Allah SWT.. “Ini adat, jadi sebagai bentuk penghayatan kami terhadap agama dan budaya kami. Kami percaya bahwa segala sesuatu yang kami dapatkan adalah berkah dari Allah,” ujarnya.
Sementara itu, tradisi ini sudah ada sejak era Kesultanan Aceh sekitar abad ke-15, kenduri turun ke sawah hingga kenduri awal musim panen sudah digelar secara turun temurun. Dimana, Setiap musim turun ke sawah sedikitnya ada tiga kali dilaksanakan kenduri di lokasi yang sudah ditentukan.
Bahkan, setiap lokasi atau kawasan sawah ada tempat tempat tertentu dan biasanya dilaksanakan di makam-para ulama. Kenduri blang ini menyimpan banyak makna, selain memohon dimudahkan rezeki dan juga dijauhkan dari bahaya, seperti dari serangan hama penyakit dan bencana alam.
Yang tak kalah penting, peluang tempat petani bermusyawarah terkait keberlangsungan bercocok tanam, yakni kapan memulai turun ke sawah, soal gotong royong membersihkan saluran air hingga menentukan varietas benih yang akan ditabur.(Adv)






