Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Seorang akademisi olahraga Aceh, Dr Mansur M.Kes menuliskan bahwa di tengah meningkatnya penyakit metabolik gaya hidup serba instan, dan menurunnya aktivitas fisik masyarakat, perlu kembali melihat praktik sederhana yang sesungguhnya telah lama diajarkan dalam tradisi keagamaan dan diperkuat oleh ilmu pengetahuan modern antara puasa dan olahraga.
Menurutnya, puasa dan olahraga sering dipersepsikan sebagai dua hal yang terpisah, bahkan dianggap tidak selaras.
Padahal, sebutnya, jika ditelaah secara ilmiah dan dijalankan secara bijak, puasa dan olahraga justru membentuk sinergi biologis yang kuat dan saling melengkapi.
Disebutkannya, puasa bekerja dari dalam, yang memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat dari asupan energi yang terus-menerus.
Dalam kondisi ini, katanya, tubuh beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi melalui proses yang dikenal sebagai ketosis (fase pembakaran lemak).
Dijelaskannya, pergeseran metabolisme ini membantu menstabilkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Secara sederhana, katanya, tubuh menjadi lebih efisien dan tidak lagi “boros” dalam mengelola energi.Sementara itu, olahraga bekerja dari luar dengan mengaktifkan sistem organ secara dinamis.
“Ketika seseorang berjalan cepat, bersepeda ringan, atau melakukan latihan kekuatan dengan intensitas sedang, otot akan menyerap glukosa lebih efektif,” ujar Mansur yang juga praktisi olahraga Aceh ini.
Katanya, aktivitas fisik meningkatkan kerja jantung, memperlancar sirkulasi darah, dan memperkuat fungsi sistem saraf. “Di titik inilah puasa dan olahraga bertemu, dimana yang satu menata ulang metabolisme sementara yang lain mengoptimalkan fungsi organ,” sebutnya.
Dalam konteks pencegahan penyakit, kata Mansur, sinergi ini menjadi sangat relevan, dimana puasa membantu memperbaiki respons insulin, sedangkan olahraga meningkatkan kemampuan sel otot menggunakan gula darah sebagai energi.
Menurutnya, kombinasi keduanya membuat kadar gula lebih stabil dan risiko resistensi insulin menurun secara signifikan. Pada persoalan obesitas, efeknya pun nyata, Puasa mendorong pembakaran lemak, sementara olahraga mempercepat oksidasi lemak dan menjaga massa otot tetap kuat.
Pendekatan ini, sebutnya, secara akademis lebih efektif dibandingkan sekadar mengurangi makan tanpa aktivitas fisik yang berdampak terhadap berat badan turun lebih sehat dan terkontrol.
Dampak positifnya juga terlihat pada sistem kardiovaskular, dimana aktivitas aerobik ringan hingga sedang memperkuat otot jantung, meningkatkan elastisitas pembuluh darah, dan membantu menurunkan tekanan darah.
Katanya, puasa mendukung dengan menurunkan kadar kolesterol jahat atau LDL (Low Density Lipoprotein) serta mengurangi peradangan. Sinergi ini berkontribusi besar dalam mencegah hipertensi dan penyakit jantung koroner yang kini menjadi penyebab kematian tertinggi di banyak negara.
Lebih jauh lagi, pada tingkat seluler puasa mengaktifkan proses pembersihan sel (autophagy) mekanisme alami tubuh dalam mendaur ulang sel-sel yang rusak. Aktivitas olahraga, meningkatkan produksi antioksidan alami yang melawan radikal bebas, karena kombinasi ini menurunkan peradangan kronis dan memperlambat penuaan dini sel.
Dengan kata lain, puasa dan olahraga bukan hanya memperpanjang usia, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup.Dalam aspek kuratif, keduanya dapat menjadi terapi pendukung pada sindrom metabolik dan perlemakan hati.
Penurunan lingkar perut, perbaikan profil lemak darah, serta meningkatnya kebugaran kardiorespirasi adalah indikator klinis yang dapat diukur secara objektif. Tentu saja, praktik ini perlu disesuaikan dengan kondisi individu dan dilakukan dengan pengawasan medis pada kasus tertentu.Yang tak kalah penting adalah dampaknya terhadap kesehatan mental.
Olahraga merangsang pelepasan endorfin dan serotonin (neurotransmitter dan neuromodulator) dua zat kimia alami di dalam tubuh yang berperan dalam mengatur suasana hati, mengurangi rasa nyeri, dan menumbuhkan perasaan bahagia.
Puasa, ketika dijalani dengan kesadaran dan kekhusyukan, melatih pengendalian diri serta kestabilan emosi. Secara neurobiologis, kombinasi ini meningkatkan kejernihan berpikir dan ketahanan terhadap stres ringan.
Dalam praktiknya, olahraga saat puasa tidak harus berat dan melelahkan cukup dengan jalan cepat sekitar 30 menit sebelum berbuka, latihan peregangan, atau latihan kekuatan ringan setelah berbuka merupakan pilihan yang relatif aman.
Prinsip utamanya adalah keseimbangan untuk menyesuaikan intensitas aktivitas dengan kondisi tubuh serta menjaga hidrasi dan asupan nutrisi yang memadai saat berbuka dan sahur.Dari perspektif religius, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan kesadaran diri dan pengendalian hawa nafsu.
Olahraga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh yang dititipkan Allah SWT. Kesehatan bukan hanya urusan fisik, melainkan wujud syukur dan tanggung jawab spiritual dengan tetap menjaga tubuh yang sehat untuk memudahkan seseorang beribadah, bekerja, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Akhirnya, sinergi puasa dan olahraga menunjukkan bahwa ajaran spiritual dan ilmu pengetahuan modern tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan seiring dan saling menguatkan. Puasa membersihkan dan menata dari dalam, olahraga menguatkan dan menghidupkan dari luar.
“Jika dilakukan dengan niat yang lurus dan pendekatan yang ilmiah, lahirlah gaya hidup yang bukan hanya preventif dan kuratif, tetapi juga bernilai ibadah agar sehat jasmani, tenang jiwa, dan bermartabat sebagai insan yang menjaga amanah kehidupannya,” ujarnya. (Sdm).






