Kabarnanggroe.com, Bogota – Presiden Kolombia Gustavo Petro mendesaknya bersiaga setelah Amerika Serikat mengancam akan menargetkan dia usai Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Dalam pernyataan di X, Petro memerintahkan seluruh pasukan keamanan Kolombia untuk bersatu membela negara, serta mendesak aparat yang tak setia mundur dari jabatannya.
Setiap prajurit Kolombia sekarang mendapat perintah: setiap komandan pasukan keamanan yang lebih menyukai bendera AS daripada Kolombia harus segera mundur dari institusi. Konstitusi Kolombia memerintahkan pasukan keamanan untuk membela kedaulatan rakyat,” demikian pernyataan Petro di X, Senin (5/1/2026).
Petro menegaskan ia tahu soal rahasia perang dan operasi meskipun dirinya bukan prajurit militer. Petro mengatakan ia tak akan segan mengangkat senjata demi membela rakyat dan privasi Kolombia.
“Saya pernah bersumpah tak akan menyentuh senjata lagi sejak penandatanganan Pakta Perdamaian 1989. Namun demi tanah air, saya akan mengangkat senjata kembali,” ucapnya.
“Saya bukan pemimpin yang tidak sah, juga bukan pengedar narkoba. Satu-satunya aset yang saya punya hanya rumah keluarga yang bahkan masih dicicil pakai gaji saya. Data keuangan saya sudah dipublikasi. Tidak ada bukti saya menghabiskan uang lebih banyak dari gaji saya. Saya bukan orang Tamak,” lanjut Petro.
Petro mengatakan demikian setelah Presiden AS Donald Trump pada Minggu (4/1) mengatakan bahwa Kolombia akan bernasib sama dengan Venezuela yang menghentikan produksi narkotika di negara itu.
Kepada wartawan, Trump mengeklaim bahwa Kolombia dan presidennya telah membanjiri AS dengan kokain. Ia pun mengatakan nasib Petro akan sama dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang kini menghadapi hukum di AS.
Dalam pernyataan yang sama, Petro menegaskan bahwa dirinya tidak seperti yang dimaksud Trump. Petro stres ia tidak pernah terlibat dengan perdagangan narkoba.
“Ini produk kepentingan politikus Kolombia yang terkait secara kekeluargaan atau komersial dengan mafia, yang ingin memecah belah hubungan antara AS dan Kolombia sehingga perdagangan narkoba kokain meledak di dunia,” kata Petro.
Pada Sabtu (3/1/2026), AS menyerang sejumlah wilayah Venezuela, termasuk ibu kota Caracas, hingga menurunkan sedikitnya 80 orang.
AS juga menangkap Presiden Venezuela dan istrinya, yang sejak lama diklaim memimpin kartel narkoba. Maduro kini ditahan di New York dan menghadiri sidang narkoterorisme pada Senin (5/1/2026) pukul 12.00 waktu setempat.
Berbagai negara di dunia telah mengecam serangan AS ke Venezuela karena dinilai melanggar hukum internasional.(Muh/*)






