Kabarnanggroe.com, Banda Aceh — Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Sibreh, mengajak umat Islam untuk bersyukur menjadi manusia keturunan Bani Adam sekaligus umat Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, manusia memiliki banyak kelebihan dan keutamaan, bahkan dibandingkan dengan malaikat, sehingga sudah sepatutnya terus menuntut ilmu, menebarkan kebaikan, memperkuat persatuan, dan saling menolong sesama.
Hal itu disampaikan Abu Sibreh dalam tausiyah Safari Subuh Sabtu (S3) di Masjid Baitul Makmur Sibreh, Aceh Besar, 19 Muharram 1448 Hijriah bertepatan dengan 4 Juli 2026.
Dalam tausiyahnya, Abu Sibreh mengutip wasiat Rasulullah SAW kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Ia menjelaskan bahwa Sayidina Ali merupakan sahabat yang memiliki kecerdasan, ketakwaan, dan ketaatan yang luar biasa, sejajar dengan para sahabat utama lainnya seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
“Meski memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ilmu dan ketakwaan, Rasulullah SAW tetap memberikan nasihat kepada Sayidina Ali. Hal ini menunjukkan besarnya kasih sayang Rasulullah kepada umatnya sekaligus pentingnya setiap Muslim untuk senantiasa menerima nasihat dan peringatan,” ujar Abu Sibreh.
Ia menjelaskan, Rasulullah SAW menyampaikan kepada Sayidina Ali bahwa Malaikat Jibril bercita-cita ingin menjadi manusia karena adanya tujuh amalan mulia yang dimiliki Bani Adam.
Amalan pertama adalah melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah, yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT.
Kedua, manusia selalu dekat dengan ilmu pengetahuan. Menurut Abu Sibreh, seluruh aspek kehidupan memerlukan ilmu, sementara ilmu sampai kepada umat melalui jasa para ulama dan orang-orang berilmu yang menjadi wasilah hadirnya berbagai kebaikan dan kemudahan.
“Kita harus terus belajar, mendengarkan nasihat yang baik, tidak menolak ilmu, serta terus menyebarkan ilmu dan kebaikan kepada sesama,” katanya.
Keutamaan berikutnya adalah kebiasaan menjenguk orang sakit. Menurutnya, menjenguk orang sakit memiliki banyak hikmah dan adab. Yang paling utama bukanlah membawa hadiah atau uang, melainkan mendoakan kesembuhan bagi saudara yang sedang sakit.
Abu Sibreh juga mengingatkan pentingnya menunaikan fardu kifayah ketika ada anggota masyarakat yang meninggal dunia. Menurutnya, kewajiban tersebut harus segera dilaksanakan oleh masyarakat di lingkungan terdekat sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Selain itu, manusia juga memiliki keutamaan gemar bersedekah dan berbagi sebagian rezekinya kepada saudara yang membutuhkan.
Keutamaan lainnya adalah menjadi pendamai atau melakukan ishlah terhadap orang-orang yang sedang berselisih. Sikap tersebut sangat dianjurkan agar persaudaraan tetap terjaga dan perpecahan dapat dihindari.
Abu Sibreh juga menekankan pentingnya memuliakan tetangga. Seorang Muslim tidak boleh menyakiti tetangganya ataupun memutus hubungan silaturahmi, melainkan harus menjaga kehormatan dan berbagi kebahagiaan dengan mereka.
“Orang Aceh sejak dahulu memiliki tradisi berbagi dengan tetangga. Tetangga yang baik merupakan salah satu nikmat Allah SWT. Dalam Islam, jiran mencakup empat puluh rumah di depan, belakang, kanan, dan kiri rumah kita,” jelasnya.
Keutamaan terakhir adalah memuliakan anak-anak yatim. Selain dianjurkan mengusap kepala anak yatim sebagai bentuk kasih sayang, umat Islam yang memiliki kelapangan rezeki juga dianjurkan membantu kebutuhan hidup dan pendidikan mereka, termasuk melalui pemberian beasiswa atau bantuan lainnya.
Menurut Abu Sibreh, baik orang yang memiliki harta maupun yang hidup sederhana sama-sama dapat menjalankan perintah agama sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang terpenting adalah menjaga keikhlasan, memperbanyak amal kebajikan, serta menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. (Saifuddin AR/Sayed MH)
