Rupiah di Luar Negeri Sudah Rp 18.011/US$

Ilustrasi Rupiah terhadap Dolar AS. FOTO/Diolah

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Tekanan terhadap rupiah semakin sulit dibendung. Mata uang Garuda kembali mencatatkan titik terlemah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS), memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah menembus level psikologis Rp18.000/US$, dan melonjak di posisi Rp18.010/US$ pada 07:25 WIB. Angka ini lebih lemah 0,05% dibandingkan sebelumnya.

Pergerakan rupiah di luar negeri mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang, di tengah dominasi dolar AS yang masih tinggi dengan indeks dolar tercatat 99,44.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent sempat terkoreksi 0,56% keposisi US$97,26 per barel, setelah kemarin menguat 1,89% dari US$96,78 per barel menjadi US$97,81 per barel.
Koreksi harga minyak mentah ini sebenarnya membawa sebagian mata uang kawasan bergerak di zona hijau dan mencatatkan penguatan meski terbatas.

Di pasar keuangan Asia yang sudah buka pada 07:00 WIB, yen Jepang menguat tipis 0,08%, disusul yuan offshore 0,06%, ringgit Malaysia 0,05%, dolar Singapura 0,03%, dan dolar Hong Kong 0,01%.

Namun, bagi rupiah harga minyak belum membawa sentimen positif karena pelaku pasar masih menyoroti data ekonomi yang kurang menggembirakan, dan iklim politik yang masih sarat dengan kebijakan yang ketat.

Pelaku pasar masih menyoroti pelebaran defisit ganda yang berasal dari fiskal dan neraca transaksi berjalan. Selain itu, data inflasi yang melonjak menjadi 3,08% semakin menambah kekhawatiran investor akan tergerusnya daya beli masyarakat yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan.

Pada saat yang sama, Moody’s Ratings untuk pertama kalinya memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas pengelola investasi yang berada di bawah Struktur Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Padahal, Danantara dibentuk sebagai mesin pertumbuhan baru dengan investasi jumbonya pada sejumlah proyek. Namun, rating ini membawa sentimen buruk bagi mesin yang sebenarnya belum cukup panas untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan.

Kasus hukum yang menimpa kepala program prioritas Makan Bergizi Gratis juga tidak luput dari perhatian pelaku pasar. Hal ini semakin menambah kenyamanan yang memberatkan langkah penguatan rupiah.

Sementara dari pasar Asia, won Korea Selatan melemah paling dalam pagi ini sebesar 0,72%. Pelemahan kemenangan ini disebutkan juga dipicu oleh sentimen lambatnya realisasi komitmen investasi Korea Selatan serta tuduhan diskriminasi terhadap perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di negara tersebut.

Dana investasi senilai US$350 miliar yang disepakati AS dan Korea Selatan akan memasuki tahun pertama pada Juli mendatang. Tapi, sampai sekarang belum ada proyek investasi konkret yang diumumkan.

Pada saat yang sama, pemerintah AS juga menyiapkan skema tarif baru yang akan diberlakukan pada musim panas ini untuk menggantikan tarif yang sebelumnya dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung AS.

Artinya, koreksi harga minyak mentah hari ini belum menghasilkan sentimen positif bagi sejumlah pasar di kawasan karena tekanan domestiknya lebih dominan, seperti yang terjadi pada won Korea Selatan dan rupiah.

Terlebih lagi, bagi rupiah yang tekanan domestiknya begitu kuat, kinerjanya pun menjadi yang terburuk di Asia sepanjang tahun ini, dengan pelemahan sebesar 7,02%.

Jika rupiah di pasar spot menembus level psikologis Rp18.000/US$, arus keluar dana asing dari pasar saham dan obligasi berpotensi semakin deras dan sulit dibendung.

Di tengah tekanan yang masih membayangi pasar keuangan global dan pelemahan rupiah di pasar NDF yang lagi-lagi menembus rekor terendah baru, akankah rupiah mampu bertahan dari tekanan?

Secara teknis, rupiah masih melanjutkan risiko pelemahan hari ini. Target pelemahan menuju level Rp18.000/US$ yang merupakan support pertama dengan target kedua harus tertahan di Rp18.100/US$.

Apabila kembali mematahkan kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah berpotensi menuju level pesimistis Rp18.200/US$ sebagai support paling kuatnya.

Namun jika nilai rupiah mamup menguat hari ini, maka resistance menarik dicermati ada pada level Rp17.900/US$ dan selanjutnya Rp17.800/US$.(Muh/*)

Exit mobile version