Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Guna menekan laju pertumbuhan angka stunting di Kota Banda Aceh, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Banda Aceh menggelar Lokakarya Mini (Lokmin) stunting di 9 Kecamatan di Kota Banda Aceh.
Kepala DP3AP2KB, Cut Azharida, SH, melalui Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Intan Indriani, SKM, mengatakan Lokmin dilakukan sebagai sosialisasi kepada para pemangku jabatan di tingkat kecamatan agar semua lintas sektor yang memiliki tanggung jawab terhadap pencegahan dan penurunan stunting memiliki sikap yang sama yaitu sepakat mempercepat penurunan stunting di setiap gampong.
“Untuk itu diperlukan upaya serius dan kerja keras melalui kolaborasi lintas sektor sejak dari intervensi hulu-hilir, intervensi spesifik dan sensitif serta pendekatan pentahelix,” katanya, Selasa (30/05/2023).
Ia menjelaskan Lokmin membahas program -program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) seperti memahami 8 Fungsi Keluarga, Pendewasaan Usia Pernikahan, Dampak Menikah Muda dan lain sebagainya.
“Jadi, melalui Lokmin ini kita bisa mengintervensi kegiatan apa saja yang sudah berjalan di desa tersebut dan menyusun prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan ke depannya dan hambatan apa yang dihadapi dalam pelaksanaan unit-unit program yang ada di desa tersebut, dalam rangka menyukseskan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (P3KB),” jelasnya.
Menurutnya, Lokmin tersebut sebagai pengingat dan memperkuat kerja sama lintas sektor yang memiliki tanggung jawab bersama dalam menurunkan stunting untuk terus bekerja mempercepat penurunan stunting, karena stunting menjadi tanggung jawab bersama.
“Sesuai dengan Perpres nomor 72 tahun 2021 ada beberapa dinas yang diamanahkan untuk penanganan stunting yang harus memiliki intervensi khusus untuk penanganan stunting di setiap gampong,” terangnya.
Upaya intervensi ini akan berhasil tentunya juga dengan dukungan dan kolaborasi lintas sektor dan program. 3 upaya intervensi Pencegahan stunting pada wanita dimulai dari masa sebelum hamil. Terdiri dari 3 paket intervensi yakni pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) mingguan bagi remaja putri, aktifitas fisik dan konsumsi makanan bergizi seimbang.
“Intervensi ini dilakukan untuk memastikan ramaja putri sebelum hamil tidak kekurangan zat besi dan gizi,” ujarnya.
Selain pemberian ttd, pemeriksaan kehamilan dan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil. Gizi dan zat besi pada ibu hamil harus tercukupi. pemantauan perkembangan janin dengan pemeriksaan ibu hamil minimal 6 kali selama 9 bulan.
“Ini penting, karena mencegah stunting itu dimulai dari 1000 hari pertama kelahiran, jadi, ibu hamil harus benar-benar sehat, agar bayi juga sehat,” jelasnya.
Selanjutnya, pemberian makanan tambahan protein hewani pada anak usia 6-24 bulan. stunting meningkat signifikan pada usia 6 – 23 bulan, akibat kurang protein hewani pada MP-ASI yang mulai diberikan sejak 6 bulan.
“Pada persoalan ini, kita terus mengawal dengan berbagai program, seperti Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) atau Rumah Gizi Gampong (RGG), keduanya merupakan program pemberian makanan sehat untuk anak-anak,” pungkasnya. (AMZ)






