Opini  

Menjadi Muslim Visioner

Oleh: Fadhilah Aini Mahasiswi PPKN USK

Kabarnanggroe.com, Gagal membuat rencana berarti merencanakan kegagalan. Apa yang terjadi jika seorang muslim tidak memiliki perencanaan hidup? Akan tak jelas arah hidupnya. Setiap perencanaan program hidup yang disertai visi yang jelas, akan meningkatkan kualitas diri, arah, dan tujuan kehidupan yang akan ditempuh.

Seseorang dikatakan sebagai muslim visioner dan berkualitas, apabila telah merencanakan dan berusaha dengan maksimal dalam segala hal, kemudian diikuti dengan sikap tawakal, memiliki semangat, dan strategi yang benar, serta tujuan menjalani hidup. Seseorang yang tidak memiliki visi, tidak tahu kemana kehidupannya akan dituju.

Demikian pula, muslim visioner dan mempunyai pandangan yang jelas, akan memiliki mimpi-mimpi masa depan yang konkret. Dia akan cerdas memprediksi kejadian di masa yang akan datang dan mampu menggambarkan tujuan, sasaran, dan target-target yang hendak dicapai.

Fenomena dalam masyarakat sering kita jumpai banyak kalangan, terutama kaum muda yang terombang-ambing dalam mengambil sikap dan mengikuti tren dunia Barat, tanpa dilandasi pendidikan dan pengetahuan yang cukup. Ini akibat tidak memiliki visi yang jelas.

Fenomena tersebut dijumpai dalam masyarakat yang tidak mampu mengelola potensi dirinya, disibukkan dengan dunia digital, dan media sosial. Mereka belum mampu mengambil manfaat dari digitalisasi dan media sosial.

Seorang muslim tanpa visi yang jelas dalam hidupnya akan hilang sikap jujur pada diri, tidak mampu berpikir kritis dalam mengambil sikap, dan dalam menyelesaikan permasalahan. Akhirnya hilanglah tujuan dan cita-cita, hilangnya kontrol diri, memperturutkan hawa nafsu, serta krisis identitas.

Dampak lainnya akan muncul sikap mental yang lemah, hilangnya motivasi dalam meraih hidup yang lebih baik, serta menjalani hari-hari tanpa memperhatikan tuntunan dari Allah Swt dan Rasulullah saw.

Dalam hal ini, Rasulullah saw sebagai role model kehidupan, telah memberikan contoh saat pertama dakwahnya. Beliau memiliki visi besar yaitu menguasai, memimpin, dan membuat kehidupan dunia selalu beruntung. Menurut beliau, tiada kata rugi kehidupan ini dalam kondisi apapun.

Visi seorang muslim ialah meraih ridha Allah Swt di dunia dan akhirat, sebagaimana doa yang terus diulang: “Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina ‘azaban al-nar”. Seorang muslim menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir.

Karena itu, setiap manusia muslim membutuhkan grand design (desain dan pola besar) dalam membangun visi kehidupan. Dalam hal ini, Alquran memandang bahwa setiap manusia memerlukan desain hidup yang jelas dan terarah.

Untuk itu, Allah telah menciptakan manusia dan membekalinya dengan desain yang sangat jelas, dengan menjelaskan visi dan rencana hidup manusia mulai dari asal usul manusia, tugas, fungsi, sampai kepada puncak tujuan kehidupannya.

Jadi cara pandang seorang muslim akan terbentuk dari bagaimana seseorang merumuskan visi dalam kehidupannya sampai tahap membuat keputusan dan tindakan. Segala hal yang ia lakukan akan berpengaruh besar terhadap pelaksanaan visi tersebut.

Seorang muslim mestilah menargetkan juga akhirat yang bahagia dengan segala balasannya dari Allah swt. Akhirat adalah hakikat kehidupan yang pasti dan abadi. Rasulullah saw bersabda: “Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan bekerja untuk sesuatu (yaitu balasan, kompensasi dan kehidupan) sesudah kematian”. (HR At-Tirmidzi)

Jadi seorang muslim visioner adalah yang mempu merencanakan kehidupannya yang baik, yang sesuai dengan tuntutan Allah Swt dan Rasulullah saw, serta mampu merumuskan visi hidupnya menuju kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Tentu saja kebahagian dicapai dengan peningkatan kualitas diri, ilmu pengetahuan, dan mampu mengendalikan diri dari berbagai hal yang sia-sia di dunia ini.