Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Harga beras di Aceh yakni di Pasar Tradisional Lambaro Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar hingga saat ini masih bertahan tinggi. Menurut pengamatan di salah satu toko grosir beras di Pasar Tradisional Lambaro, penjualan beras belum menunjukkan penurunan, bahkan malah naik sekitar seribu hingga dua ribu rupiah perkilogram.
Seperti Harga beras kualitas medium kini berkisar Rp 13.000 per kilogram, padahal sebelumnya Rp 12.500 per kilogram, sedangkan beras premium kini Rp 14.000 per kilogram.
“Hingga kini belum menunjukkan trend penurunan, sekarang untuk Harga beras jenis premium di jual kisaran 14 ribu, sebelumnya dijual Rp 13 ribu perkilogram, sementara untuk beras medium kini di jual Rp 13 ribu per kilogram. Berarti harganya naik seribu hingga dua ribu rupiah dalam perkilogram,” hal itu disampaikan oleh Hendra Jaya, salah satu pedagang beras di Pasar Induk Lambaro kepada Kabarnanggroe.com, Aceh Besar, Ingin Jaya, Sabtu (30/09/2023).
Kemudian, Harga beras kualitas super premium sekarang mencapai Rp 220 ribu per sak ukuran 15 kilogram.
“Bila perkilogram sekitar Rp 14,600, untuk beras super premium,” ujarnya.
Menurut Hendra, bukan hanya beras medium dan premium saja yang mengalami kenaikan, beras Bulog juga mengalami kenaikan dari harga biasanya.
“Dulu harganya Rp 8,600 per kilogram, sekarang menjadi Rp 10,250 perkilogram beras,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, kenaikannya harga beras di pasaran dipicu sejumlah faktor termasuk kemarau panjang sehingga banyak petani yang alami gagal panen dan ditambah lagi tingginya permintaan, dikarenakan sudah mulai memasuki bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Naiknya harga karena faktor kemarau panjang, hingga kebanyakan gagal panen, selain itu juga permintaan tinggi karena masyarakat sudah mulai menyambut masuknya bulan Maulid Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.
Selain itu, tingginya harga beras juga disebabkan oleh pasokan mulai berkurang karena sebagian wilayah sentra produksi mengalami gagal panen akibat cuaca.
“Sekarang yang memasok beras hanya dari Kabupaten Pidie, karena di Pidie sedang ada panen walaupun bukan panen besar. Selain Pidie, pasokan beras ada juga dari Aceh Besar,” sebut Hendra.
Ia mengaku dengan kenaikan harga ini daya beli masyarakat berkurang. Meski begitu, masyarakat tetap membeli beras karena merupakan kebutuhan pokok sehari-hari.
“Biasanya masyarakat beli 1 sak, sekarang mereka hanya mampu beli 2-5 kilo. Ya, karena mereka masih ingin membeli kebutuhan lainnya,” akui Hendra kepada Kabarnanggroe.com.
Ia juga meminta, pemerintah dan Bulog harus menjadi suport sistem para pedagang. Misalnya dulu pihak Bulog menyuplai beras sekitar 2 TON, maka dengan kondisi seperti ini pihak Bulog harus perbanyak limitnya menjadi 4 TON. Karena, bila ada suport sistem dari Bulog, otomatis para pedagang pasti akan menahan sedikit harganya, sehingga tidak mengalami kenaikan yang signifikan seperti ini.
“Sekarang suport dari Bulog sangat lemah, dulu mereka mendistribusikan beras mencapai 2 sampai 4 TON dalam satu minggu, sekarang hanya 500 dalam satu minggu mereka distribusikan kepada Toko beras yang sudah memiliki surat izin dari pihak Bulog,” tandasnya.
Sementara itu, salah satu pembeli Manda (32) mengaku keberatan dengan tingginya harga beras, karena efeknya sangat terasa. Apalagi beras kebutuhan sehari-hari.
“Pemerintah harus melihat kondisi yang dirasakan oleh masyarakat sekarang, bukan hanya beras saja yang naik, sembako lain juga, apa tidak susah kami rasakan (peu han susah kamo rasakan teuma) semua naik,”katanya
Ia menambahkan, Kondisi seperti ini sangat berat bagi kami dengan penghasilan suami yang pas-pasan.
“Mak kami, berharap pemerintah dapat menurunkan harga beras dan sembako lainnya, karna masyarakat kecil seperti saya sangat terdampak dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (DJ)






