Kabarnanggroe.com, Aceh Besar — Menuntut ilmu sejatinya tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga harus melahirkan kerendahan hati dan kedekatan kepada Allah Swt. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka seharusnya semakin besar pula rasa tawadhu’ dan ketergantungannya kepada Allah melalui doa.
Hal tersebut disampaikan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustaz M. Hadziq Al-Fathani, dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ PMDG Kampus 8, Seulimuem, Aceh Besar, Jumat (31/7/2026).
Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa ilmu adalah bagian dari ibadah yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, bukan sebagai sarana berbangga diri atau riya’.
“Ilmu bukan hanya menguji kecerdasan, tetapi juga menguji amanah, disiplin, kesabaran, keikhlasan, dan sejauh mana seseorang bersandar kepada Allah Azza wa Jalla,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para pelajar yang giat murajaah dan menghafal agar tidak melupakan hakikat ilmu sebagai nikmat dari Allah.
Ustaz Hadziq mengutip firman Allah Swt dalam Surah Thaha ayat 114, “Rabbi zidni ‘ilma” (Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu), serta hadis Rasulullah Saw, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).
Menurutnya, keberhasilan sejati bukan terletak pada nilai akademik semata, tetapi pada kejujuran dan amanah dalam menuntut ilmu.
Ia menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh dengan cara tidak jujur, seperti mencontek, tidak akan membawa keberkahan dan tidak bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ujian kehidupan tidak hanya sebatas ujian akademik yang bersifat sementara.
“Ujian terbesar adalah kehidupan itu sendiri. Allah menciptakan kita untuk menguji keimanan dan amal, bukan untuk melihat siapa yang paling banyak harta atau jabatan, tetapi siapa yang paling baik amalnya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Hadziq mengajak jamaah menjadikan hari-hari sebagai momentum muhasabah diri, memperbaiki niat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga shalat tepat waktu, serta berbakti kepada orang tua dan guru.
Menurutnya, amalan-amalan tersebut menjadi sebab utama turunnya taufik dan keberhasilan.
Ia menegaskan, “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.”
Keberhasilan yang hakiki, lanjutnya, adalah keberhasilan yang mengantarkan seseorang kepada ketaatan kepada Allah, memberi manfaat bagi sesama, dan berkontribusi dalam memperbaiki masyarakat.
Pada akhir khutbahnya, ia mengajak seluruh jamaah senantiasa berdoa kepada Allah agar diberkahi waktu, dibukakan pintu pemahaman, dijadikan ilmu sebagai hujjah yang membela, bukan yang memberatkan, serta dianugerahi keikhlasan dalam setiap ucapan dan perbuatan. (Sayed M. Husen/Kaffah)
