Kabarnanggroe.com, Kuala Simpang – Perjalanan dimulai dari Kota Langsa – daerah yang juga dilanda banjir, kini masih banyak kawasannya berlumpur – pada Senin, 29 Desember 2025, sekira pukul 09.00 WIB menuju Aceh Tamiang.
Setelah melewati Langsa Timur perbatasan Langsa – Aceh Tamiang. Memasuki kawasan Kecamatan Manyak Payed, melintasi beberapa desa. Terlihat pemukiman dan rumah penduduk di kiri – kanan ruas jalan, bekas dihantam banjir bandang, 26 November 2025 atau sudah satu bulan lebih.
Sepanjang jalan di daerah itu ada rumah berlumpur dan posisinya sudah bergeser dari tapaknya, ada yang tinggal tapaknya saja, tidak ada atapnya, ada rumah yang masih utuh tapi ada endapan
Lumpur dan Bermacam Kerusakan.
Pemandangan rumah rusak berlumpur dan hanya tinggal tapak serta pemukiman yang masih berlumpur tebal di kiri – kanan ruas jalan sampai memasuki kawasan Kecamatan Karang Baru terlihat jelas meski bencana banjir bandang sudah berlalu sebulan lebih.
Juga tampak di daerah Desa Tanjong Seumantoh, Karang Baru, sudah dan sedang dibangun hunian sementara untuk korban banjir. Di sepanjang ruas jalan di kawasan Karang Baru juga ada satu – dua mobil yang terperangkap saat banjir.
Kondisi rumah rusak dan berlumpur makin tampak sampai kawasan kantor DPRK dan Kantor Bupati Aceh Tamiang hingga pusat Kota Kuala Simpang.
Parah Dihantam Banjir dan Lumpur
Di komplek Kantor Bupati Aceh Tamiang pada Senin (29/12) pagi itu juga sedang berlangsung unjuk rasa dari masyarakat yang minta segera ditetapkannya status bencana nasional banjir Aceh Tamiang.
Lalu di kawasan pusat Kota Kuala Simpang juga masih berlumpur tebal. Banyak toko – pertokoan yang masih endapan lumpur belum buka. Hampir semua ruas jalan dari arah Banda Aceh mulai Manyak Payed hingga kawasan kota berlumur lumpur.
Kecuali di sekitar kawasan pusat kota Kuala Simpang sudah banyak pedagang menjual bahan kebutuhan pokok, ikan, sayur-sayuran dan bahan dapur. Di antaranya ada juga jualan pakaian dalam yang banyak pembelinya – karena banyak warga pakaiannya habis disapu banjir.
Tampak para relawan dan prajurit TNI, Polri mengeruk dan membersihkan lumpur di beberapa tempat/fasilitas publik, mulai di ruas jalan menuju dan dalam kawasan pusat kota, mulai dari komplek Bupati Aceh Tamiang.
Dari jembatan Kuala Simpang, sebelah kanan dari arah Medan daerah Kota Lintang Bawah tidak terlihat lagi ada rumah penduduk, yang ada tenda – tenda warga yang mengungsi. Daerah itu habis disapu banjir bandang dasyat sekitar 13 meter.
Begitu juga di sebelah kanan dari Banda Aceh, tampak Desa Serbajadi atau dikenal sebutan kampung Vietnam hampir tak terlihat rumah, yang banyak terlihat tenda-tenda warga mengungsi. Daerah pinggirian sungai Kuala Simpang ini juga cukup parah dihantam banjir.
Di sekitar menaiki jembatan itu ada lima anak berusia sekitar tujuh dan delapan tahun. Ketika ditanya di mana tinggal dan rumahnya, dijawab oleh salah seorang di antaranya : “tinggal di sini sambil menunjuk bagian sudut kampung Vietnam – masih terlihat tumpukkan puing-puing kayu pepohonan – dan rumah sudah habis di bawa banjir”
Itu pemandangan kerusakan dan berlumpur yang terlihat di kanan – kiri ruas jalan mulai dari Manyak Payed hingga kawasan Kota Kuala Simpang dalam perjalanan selama sekitar 50 menit dengan sepeda motor yang menempuh jarak sepanjang 34 kilometer Langsa – Aceh Tamiang.
Suara Minta Tolong
Setelah menyusuri kawasan Kota Kuala Kuala Simpang, mencari warung untuk minum. Berjumpalah warung kopi bernama Bandanh di Desa Bundar. “Baru empat hari buka,” ujar Azhar pengusaha warung itu.
Azhar yang mengaku sebagai Warga Serui, Aceh Tamiang, sebelumnya buka warung tidak jauh dari tempatnya sekarang, warung lama yang ia sewa itu sudah disapu banjir.
Ia bercerita pada malam 26 November, sekitar pukul 20.00 sudah mulai banjir, warga sudah banyak keluar rumah di perkampungan untuk mengungsi. Air naik terus mencapai satu – dua meter pada tengah malam atau dini hari itu.
“Pada tengah malam itu terdengar suara minta tolong. Terdengar tolong-tolong, tetapi besok hari suara itu tidak terdengar lagi. Sedangkan air hampir mencapai lantai dua toko atau sekitar tiga meter lebih,” sebut Azhar yang mengaku naik ke lantai dua Masjid dekat warung lama ketika air terus meninggi malam itu.
Hampir Semua Desa
Hampir semua wilayah dan desa di Aceh Tamiang, cukup parah dihantam banjir bandang, bahkan ada desa hampir tidak tersisa lagi rumah. “Boleh dibilang semua Wilayah Aceh Tamiang terkena banjir,” ujar seorang Warga Desa Tanjung Seumatoh, Saiful Alam yang mengajak minum di suatu warung di Tualang Cut usai menyusuri kawasan kota Kuala Simpang.
Saiful menyebutkan, di Aceh Tamiang ini ada 216 desa dengan 12 Kecamatan, di antarnya 209 desa parah dihantam banjir bandang, 7 desa lagi juga kena banjir.
Saiful mengatakan, bahkan ada desa yang parah dihantam banjir bandang, hampir tidak ada tersisa lagi rumah penduduk di antaranya yaitu Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Desa Lintang Bawah dan Desa Serbajadi.
Menurut Saiful, yang terdata hingga saat ini sebanyak 88 orang meninggal dunia akibat banjir di Aceh Tamiang, bisa saja lebih, karena parah sekali banjir yang melanda daerah ini.
“Di Desa Tanjung Seumantoh air setinggi tiga hingga empat meter. Rumah saya yang di lantai dua tidak terkena air, sehingga menjadi tempat kami sekeluarga dan beberapa warga bertahan saat banjir yang puncaknya 28 November hingga air surut dua – tiga hari kemudian,” ujar Saiful.
Ceritanya, ia punya stok satu sak beras ukuran 10 kilogram dan tabung gas ukuran 3 kilo yang didapat dari hanyut di air sehingga bisa untuk memenuhi kebutuhan saat terjadi banjir.
Secara Massal dan Padat Karya
“Sekarang ini banjir sudah tidak ada, tetapi setelah masyarakat masih susah, lumpur entah kapan bisa habis. Warga mau bersihkan lumpur di rumah, tidak tahu mau buang ke mana, di depan dan sekeliling rumah semua lumpur,” katanya.
Sebutnya, pembersihan lumpur memang ada dan sudah dilakukan relawan dan TNI, Polri, tetapi di kantor- kantor, tempat-tempat fasilitas publik, itupun jumlahnya terbatas.
Menurutnya, pembersihan lumpur bisa dilakukan secara massal serta masif melibatkan ribuan orang atau relawan dan didukung peralatan serta alat berat yang cukup.
Saluran, riol dan drainase terendap lumpur bisa segera bersih, sehingga Aceh Tamiang bisa cepat bersih dari lumpur.
“Kalau warga yang bersihkan tidak mungkin dan tidak sempat, karena harus bekerja mencari rezeki. Kecuali sistim padat karya bisa, warga bekerja membersihkan lumpur diberi upah atau gaji, seperti waktu pembersihan puing tsunami di Banda Aceh,” ujarnya.
Sementara warga seorang Warga Tanjung Seumantoh lainnya, Razak menyebutkan membersihkan lumpur di rumah secara sambilan. “Saya bersihkan sedikit-dikit,” ujarnya.
Ia juga setuju pembersihan lumpur disemua pemukiman penduduk dilakukan juga secara padat karya yang memberdayakan warga setempat dengan memberi gaji/upah.
Pada waktu banjir, ia bersama seorang rekannya mengaku sempat juga membantu mengevakuasi empat orang terjebak banjir di daerah karang baru ini.
Setelah satu jam perbicangan dengan korban banjir di suatu warung di Tualang Cut, sekitar pukul 12.30 kembali ke Kota Langsa. Semoga semua lumpur bisa segera cepat dibersihkan dan Aceh Tamiang cepat pulih kembali. (Sudirman Mansyur).
