Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi melaporkan hampir 5 ribu rumah atau tepatnya 4.839 rumah hilang akibat banjir bandang dan longsor di wilayahnya pada 26 November 2025 lalu.
Data itu disampaikan Armia dalam rapat koordinasi dengan Satgas Pemulihan Dampak Bencana DPR yang dipimpin Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad di Banda Aceh, Selasa (30/12/2025).
Adapun rapat koordinasi satgas pemulihan setelah bencana di Aceh ini turut dihadiri Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Maruli Simanjuntak, dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
Hadir juga Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi, hingga Utusan Khusus Presiden bidang Kepemudaan, Raffi Ahmad.
Selain itu, turut hadir dalam rapat tersebut Wakil Ketua DPR lainnya, seperti Saan Mustopa dan Cucun Ahmad Syamsurijal.
Menurut Bupati Aceh Tamiang, jumlah itu masih dinamis dan berpeluang naik.
“Kemudian kami melaporkan juga untuk kondisi rumah. Rumah yang hilang di Aceh Tamiang, hitungan kami masih dinamis, sebanyak 4.839 rumah yang hilang,” kata dia.
“Jadi ini ada di beberapa kampung atau berbagai desa memang benar hilang, terutama yang di pinggir sungai,” imbuh Armia.
Menurut dia, jumlah itu belum termasuk sekitar 33 ribu rumah yang rusak mulai dari kategori berat hingga ringan. Dia menyatakan jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan berat sebanyak 8.509 rumah.
Lalu, rusak sedang 9.366 rumah, dan rusak ringan sebanyak 15.174 rumah. Armia menyebut pihaknya sudah menyiapkan lahan untuk dibangun perumahan sementara maupun perumahan tetap untuk rumah-rumah tersebut.
“Kami sudah menyiapkan pembangunan huntera dan perumahan tetap,” katanya.
Rumah-rumah itu akan dibangun di atas lahan milik pemerintah daerah. Armia juga telah meminta sejumlah perusahaan untuk mencabut izin hak guna usaha (HGU) untuk membangun perumahan bagi warga.
“Ada 14 perusahaan HGU yang kami minta untuk bisa dilepaskan sebagai tempat yang nantinya akan dibangunkan hunter atau perumahan tetap,” ujarnya.
“Karena hasil perhitungan kami lebih kurang itu sebanyak 15.000 unit rumah tetap yang kami perlukan di Aceh Tamiang,” tutup Armia.(Muh/*)
