Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Dalam rangka mengenang dua dekade musibah gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004, Masyarakat Gampong Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, yang kehilangan ribuan jiwa dalam tragedi tersebut, kembali menggelar peringatan yang diisi dengan doa bersama, tausiah, santunan anak yatim, hingga nonton bareng (nobar) film dokumenter bertajuk “After Tsunami in Lambada Lhok Village”, di Masjid Tgk Chik Lambada Lhok, Rabu (24/12/2024) malam.
Doa bersama yang digelar usai salat Magrib berjamaah yang dipimpin oleh Tgk Bukhari selaku imuem meunasah Gampong Lambada Lhok. Kemudian, penyampaian tausiah singkat dilakukan oleh Tgk Sri Darmawan dari Miruk Taman, yang dilanjutkan dengan makan bersama, pemberian santunan kepada anak yatim, serta pemutaran film dokumenter diakhir pelaksanaannya.
Film dokumenter yang diputar merekam kehidupan masyarakat Lambada Lhok di camp pengungsian pasca-tsunami. Pemutaran film tersebut menjadi momen refleksi yang mendalam bagi warga, terutama generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa tragis tersebut.
Pada kesempatan itu, Keuchik Lambada Lhok Sulaiman menjelaskan, peringatan tsunami merupakan kegiatan tahunan di gampong tersebut. Namun, tahun ini dirancang lebih spesial dengan penambahan agenda pemutaran dokumenter.
FOTO/ KIRIMAN TWK ABD RAZAK AL KHUZAIFI – LAMBADA LHOK
“Kegiatan ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah. Insya Allah, kami akan terus melaksanakan agenda ini setiap tahunnya,” ujar Sulaiman.
Senada itu, Chairul Amri yang merupakan mantan Keuchik Lambada Lhok, menegaskan pentingnya peringatan ini untuk merenungkan kembali peristiwa kelam tersebut dan mengedukasi generasi yang lahir setelah tsunami.
“Banyak anak muda sekarang, terutama yang lahir pasca-tsunami, tidak memahami betapa beratnya kehidupan saat itu. Dokumenter ini adalah pengingat agar kita selalu bersyukur dan menghargai perjuangan para korban,” kata Chairul Amri.
Sementara itu, Cut Bahtiar Esmoha, seorang tokoh pujangga dari Lambada Lhok, mengucapkan terima kasih kepada NGO lokal dan internasional yang telah membantu mendokumentasikan kehidupan warga pasca-tsunami.
“Syukur alhamdulillah, ada yang mendokumentasikan sehingga momen ini bisa dikenang oleh generasi yang tidak mengalami langsung kejadian masa itu,” ungkapnya.
Peringatan 20 tahun tsunami di Lambada Lhok menjadi pengingat kolektif akan pentingnya mengenang sejarah sebagai pelajaran hidup. Selain itu, kegiatan ini menguatkan solidaritas dan semangat warga untuk terus mengenang para korban yang telah tiada.
Sebagai informasi lainnya, Masjid Tgk Chik Lambada Lhok, diketahui sebagai salah satu bangunan yang menjadi saksi bisu keganasan tsunami setinggi 30 meter yang menyapu gampong tersebut. Dari 2.200 penduduk Lambada Lhok sebelum tsunami, hanya 350 jiwa yang selamat.(WD/*)
