Sikula Legislatif Resmi Ditutup, Ketua SEMA Dorong Peserta Jadi Pelopor Solusi bagi Kampus dan Daerah

Kabarnanggroe.com, Banda Aceh — Kegiatan Sikula Legislatif Se-Aceh resmi ditutup setelah berlangsung sebagai ruang pembelajaran, diskusi, dan pertukaran gagasan bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh. Penutupan kegiatan tersebut menjadi momentum bagi peserta untuk tidak berhenti pada forum, tetapi membawa pengetahuan dan gagasan yang diperoleh ke lingkungan kampus maupun masyarakat.

Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Zuhari Alvinda Haris menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia juga memberikan penghargaan kepada para mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru Aceh dengan meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan kesempatan untuk belajar serta berdiskusi bersama delegasi mahasiswa dari berbagai kampus.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Sikula Legislatif yang kami laksanakan. Saya mewakili panitia turut mengapresiasi peserta yang jauh-jauh datang dari setiap penjuru Aceh dan telah meluangkan waktu, kesempatan, tenaga, serta pikirannya untuk belajar dan berdiskusi bersama mahasiswa delegasi dari setiap kampus di Aceh,” ujarnya.

Menurutnya, berakhirnya Sikula Legislatif tidak seharusnya dimaknai sebagai berakhirnya proses belajar dan perjuangan mahasiswa. Justru, forum tersebut harus menjadi titik awal bagi peserta untuk mengambil peran yang lebih nyata di lingkungan masing-masing.

“Saya berharap ini bukanlah akhir. Jangan pernah merasa puas dan bersenang hati bahwa tantangan yang sebenarnya kita sebagai mahasiswa bukanlah di forum ini, tetapi bagaimana keberadaan kita benar-benar terasa di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia menilai, kapasitas dan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan harus diimplementasikan secara nyata. Para peserta yang hadir sebagai delegasi kampus dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan pengetahuan tersebut kepada mahasiswa lain di lingkungan perguruan tinggi masing-masing.

“Saya juga berharap peserta bisa mengimplementasikan ilmu ini untuk disalurkan dan diberikan kepada teman-teman mahasiswa yang ada di kampusnya. Mengingat teman-teman adalah orang-orang yang terpilih mewakili kampus masing-masing, tentu ada tanggung jawab moral sebagai delegasi yang telah diamanahkan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Zuhari menegaskan bahwa Sikula Legislatif tidak dirancang sebagai ruang untuk memprovokasi mahasiswa. Kegiatan tersebut, lahir dari kegelisahan interest yang begitu banyak dari berbagai persoalan sosial dan politik yang belum tuntas hingga hari ini, termasuk menurunnya kepercayaan publik terhadap mereka yang dianggap membawa dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Sikula Legislatif ini terlaksana bukan karena ingin memprovokasi peserta. Namun, kami melihat bagaimana dilema rakyat atas ketidakpercayaannya kepada mereka yang selalu menjual idealisme melalui praktik-praktik pragmatisme yang terjadi,” katanya.

Ia berharap mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut mampu mempertahankan idealisme, berpikir kritis, serta mengambil peran sebagai bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat, kampus, dan daerah.

Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh peserta untuk tidak menjadikan Sikula Legislatif sekadar pengalaman akademik dan organisasi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang dalam menjaga semangat perjuangan.

“Dan hari ini saya memohon kepada Yang Kuasa agar teman-teman semua bisa menjadi orang yang selalu menjaga spirit perjuangan hingga akhir dan sampai kapan pun,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya Sikula Legislatif, para peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman dan pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk mengimplementasikan gagasan, memperkuat peran mahasiswa di kampus, serta menghadirkan kontribusi yang nyata bagi masyarakat dan daerah.(*)

Exit mobile version