Kabarnanggroe.com, Aceh Barat – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengusulkan program proyek strategis nasional pembangunan kolam retensi senilai Rp300 miliar ke Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia, melalui koordinasi anggota Komisi V DPR-RI asal Aceh Ustazd Gufron.
“Jika proyek kolam retensi ini terwujud, masalah banjir di Kota Meulaboh, Aceh Barat akan teratasi secara signifikan,” kata Bupati Aceh Barat Tarmizi didampingi Plt Sekdakab Aceh Barat Kurdi di Aceh Barat, Sabtu (25/4/2026).
Selain fungsi teknis, area tersebut nantinya akan dikembangkan menjadi destinasi wisata baru yang dilengkapi dengan fasilitas jogging track, serta sejumlah fasilitas publik lainnya.
Tarmizi mengatakan, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat saat ini terus melakukan koordinasi teknis dengan Kementerian PU, termasuk Balai Sungai dan Pantai di Bali serta Yogyakarta untuk mematangkan perencanaan proyek tersebut.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat pada Sabtu, 4 Oktober 2025 lalu juga telah mengusulkan lima proposal usulan rencana pembangunan kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia Dody Hanggodo di Jakarta, sebagai upaya meningkatkan pembangunan infrastruktur di daerah.
“Pertemuan ini khusus membicarakan pembangunan Aceh Barat. Beberapa proposal yang kami ajukan sudah dilengkapi dengan detail engineering design atau DED,” kata Tarmizi.
Tarmizi mengatakan pertemuan penting dengan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo, turut membahas sejumlah program prioritas pembangunan di Aceh Barat.
Dalam kesempatan itu, ia turut menyerahkan lima proposal strategis kepada pemerintah pusat, diantaranya penuntasan proyek daerah Irigasi Lhok Guci, Aceh Barat.
Kemudian usulan pembangunan jalan dua jalur dalam Kota Meulaboh, proyek pembangunan Break Water (Jetty) dan kolam retensi Suak Ujong Kalak, Meulaboh, Aceh Barat.
Melalui pertemuan ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berharap dukungan bantuan keuangan pemerintah dapat mencapai ratusan miliar, karena kebutuhan pembangunan di daerah masih sekitar Rp2,6 triliun lagi.
Ia menjelaskan, pembangunan jalan dua jalur direncanakan di sejumlah titik strategis, seperti ruas Meureubo–Simpang Alpen, Jalan Sisingamangaraja, dan Jalan Manek Roo, Meulaboh, ibu Kota Kabupaten Aceh Barat.
Namun yang paling mendesak, menurut Tarmizi, adalah penuntasan proyek irigasi Lhok Guci.
Kemudian penanganan jalan dan jembatan di berbagai daerah, proyek penguatan tebing serta pengendalian banjir Sungai Meureubo.
Melalui pertemuan ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berharap dukungan bantuan keuangan pemerintah dapat mencapai ratusan miliar, karena kebutuhan pembangunan di daerah masih sekitar Rp2,6 triliun lagi.
Ia menjelaskan, pembangunan jalan dua jalur direncanakan di sejumlah titik strategis, seperti ruas Meureubo–Simpang Alpen, Jalan Sisingamangaraja, dan Jalan Manek Roo, Meulaboh, ibu Kota Kabupaten Aceh Barat.
Namun yang paling mendesak, menurut Tarmizi, adalah penuntasan proyek irigasi Lhok Guci.
“Sekitar 70 persen penduduk Aceh Barat adalah petani. Dari 12 kecamatan, delapan kecamatan di antaranya sangat bergantung pada irigasi ini. Jika rampung, ada 12 ribu hektare sawah yang bisa kembali aktif,” ungkapnya.
Selain itu, pembangunan kolam retensi Suak Ujong Kalak juga menjadi prioritas untuk mengatasi banjir di pusat Kota Meulaboh, Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat dan proyek ini diperkirakan membutuhkan anggaran paling sedikit Rp50 miliar.(Muh/*)
