Kabarnanggroe.com, Jakarta – Implementasi kebijakan biodiesel B50 diperkirakan menjadi katalis positif bagi kinerja emiten kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), seiring dengan potensi kenaikan permintaan domestik dan penguatan harga CPO global.
Pemerintah telah mengumumkan bahwa penerapan mandatori biodiesel 50% (B50) akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini dinilai akan mengubah struktur permintaan CPO di dalam negeri secara signifikan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menyebut peningkatan serapan domestik melalui program B50 akan mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor, sekaligus menopang average selling price (ASP) emiten sawit seperti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
“Emiten dengan efisiensi tinggi seperti TAPG dan DSNG akan sangat diuntungkan karena profil tanaman yang masih muda dan produktivitas tinggi,” jelas David kepada Kontan, Jumat (26/4/2026)
Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyebut Emiten berbasis hulu seperti AALI dan LSIP diperkirakan paling diuntungkan dari kenaikan harga CPO.
Sementara TAPG memiliki keunggulan dari sisi integrasi hilir, khususnya pada bisnis biodiesel. Adapun DSNG dinilai akan mencatatkan kinerja yang lebih moderat.
Di luar mandat B50, Sukarno melihat sejumlah katalis lain yang dapat mempengaruhi kinerja sektor ini pada 2026, di antaranya harga minyak dunia yang masih tinggi, permintaan dari negara konsumen utama seperti India dan China, serta pasokan global yang relatif ketat.
Namun, terdapat pula sejumlah sentimen negatif yang membayangi, seperti normalisasi cuaca yang dapat menekan harga, regulasi ekspor dari Uni Eropa melalui kebijakan EUDR, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta potensi kenaikan pungutan sektor sawit.
David juga menerangkan jika terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati terhadap emiten sektor CPO ini. Salah satunya adalah potensi keterbatasan pasokan akibat stagnasi produksi nasional, terutama jika dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Kondisi ini berpotensi menekan volume ekspor karena prioritas pasokan akan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).
Selain itu, tantangan struktural seperti isu pohon tua (aging trees) juga masih membayangi industri. Tanpa percepatan program peremajaan (replanting), pertumbuhan produksi berisiko terbatas dalam jangka menengah.
Ada pun demikian, Research Associate Sector – Cement, Chemicals, Infrastructure, Telco-Tower, Oil & Gas CGS International Sekuritas Indonesia, Rut Yesika Simak, menandai jika biodiesel dinilai semakin kompetitif.
Saat ini, harga B50 berada di kisaran Rp 13.000 per liter, lebih rendah dibandingkan diesel yang mencapai sekitar Rp 17.800 per liter. Selisih harga ini dinilai memperkuat alasan percepatan implementasi.
Pun, tantangan masih membayangi, terutama terkait pasokan metanol. Implementasi penuh B50 diperkirakan membutuhkan sekitar 2,1 juta kiloliter metanol per tahun. Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah tengah menjajaki pengembangan produksi metanol domestik di Jawa Timur dan Sumatera.
Selain biodiesel, pemerintah juga menargetkan pengembangan bahan bakar hayati lainnya. Campuran bioetanol ditetapkan sebesar 5% pada 2025-2026 dan meningkat menjadi 10% pada 2028-2030. Sementara itu, Sustainable Aviation Fuel (SAF) ditargetkan mulai diimplementasikan pada 2027.
“Peta jalan ini memberikan visibilitas yang lebih jelas terkait target pencampuran nasional, sekaligus menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam mendorong adopsi biodiesel, didukung oleh faktor daya saing ekonomi dan kebutuhan ketahanan energi,” jelas Rut dalam riset 9 April 2026.
Rut menilai, fokus pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor diesel akan memperkuat prospek sektor biofuel. Pendekatan berbeda antara sektor PSO (Public Service Obligation) dan non-PSO juga memberikan fleksibilitas dalam implementasi kebijakan.
Sejalan dengan itu, Rut mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perkebunan dengan proyeksi harga CPO 2026 di level RM 4.500 per ton.
Mandat B50 diperkirakan akan mendorong harga minyak nabati, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta memberikan sentimen positif bagi emiten sawit.
Lebih lanjut, jika dilihat dari kinerja keuangan, emiten CPO kompak mencatatkan kinerja laba bersih positif pada sepanjang 2025. Ada pun terkait kinerja keuangan pada 2026 diperkirakan tetap solid, meskipun pertumbuhannya tidak merata.
Sukarno berpandangan TAPG dan LSIP masih memiliki kinerja yang lebih stabil, sementara AALI cenderung lebih sensitif terhadap pergerakan harga CPO global. Adapun DSNG diproyeksikan bergerak lebih defensif dengan pertumbuhan moderat.
Untuk rekomendasi sahamnya, Rut memberikan saran investor mencermati saham DSNG dan TAPG untuk add dengan target harga masing-masing Rp 1.990 dan Rp 1.840 per saham.
Kemudian PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Halima Yefany memberikan rekomendasi buy saham LSIP dengan target harga Rp 1.600 per saham. Serta Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa menjagokan saham DSNG untuk buy dengan target harga Rp 1.940 per saham.(Muh/*)
