Dialog Kebudayaan PPN XIV Aceh Bahas Masa Depan Sastra Lisan Nusantara

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., memberi sambutan pada Dialog Kebudayaan Masa Depan Sastra Lisan Nusantara di Temas River Park, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026). FOTO/ M HERIZAL

Kabarnanggroe.com, Takengon — Dialog Kebudayaan bertajuk Masa Depan Sastra Lisan Nusantara yang diikuti para peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 berlangsung khidmat di Temas River Park, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan ini diawali dengan penampilan Tari Binnes dari Sanggar Umah Supu Kabupaten Gayo Lues yang memukau para peserta, sekaligus menjadi pembuka suasana dialog kebudayaan yang sarat makna.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan kekagumannya terhadap Tanah Gayo. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai tempat lahirnya orang-orang berkualitas.

“Tanah Gayo, tanah morolu, tempat lahirnya orang-orang berkualitas. Tiada mungkin saya yang terkecil bisa hadir di tengah Anda semua,” ujarnya.

Salah Penyair XIV 2026 membawakan puisi kemanusiaan usai Dialog Kebudayaan Masa Depan Sastra Lisan Nusantara di Temas River Park, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026). FOTO/ M HERIZAL

Dalam sesi dialog, Pelestari Sastra Lisan Aceh Tengah, Ceh M. Din, memaparkan kekayaan seni Didong sebagai warisan budaya Gayo yang tidak terpisahkan dari tiga unsur utama, yakni seni sastra (lisan), seni suara (vokal), dan seni tari.

Ia menjelaskan, Didong bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga sarana penyampaian nilai-nilai kehidupan, termasuk nilai keagamaan. Menurutnya, istilah Didong berasal dari “din” yang berarti agama dan “dongeng” yang berarti menyampaikan, sehingga dimaknai sebagai media menyampaikan ajaran melalui seni.

“Didong itu harus memadukan tiga unsur: sastra yang tersusun rapi dan bermakna, suara yang indah, serta gerak tari yang khas. Ketiganya tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa seorang “ceh” atau pelaku utama Didong harus memiliki kemampuan mencipta lirik, mencipta lagu, sekaligus menampilkannya dengan kualitas vokal yang baik.

Namun demikian, ia juga menyoroti tantangan pelestarian sastra lisan di tengah perubahan zaman, khususnya menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.

“Anak-anak sekarang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, baik di sekolah maupun di rumah. Akibatnya, mereka mulai tidak memahami bahasa Gayo, termasuk dalam lagu-lagu Didong,” ungkapnya.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., foto bersama dengan peserta PPN XIV 2026 di Temas River Park, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026). FOTO/ M HERIZAL

Ia berharap adanya peran aktif pemerintah dan lembaga kebudayaan untuk menghadirkan para seniman Didong ke sekolah-sekolah agar generasi muda dapat belajar langsung sejak dini.

Sementara itu, Pemerhati Sastra Lisan dari Malaysia, Prof. Norhayati Abd. Rahman, dalam paparannya menjelaskan bahwa sastra lisan di Malaysia terbagi dalam dua bentuk utama, yakni prosa dan puisi. Ia mencontohkan pantun sebagai salah satu bentuk sastra lisan yang paling populer dan sarat nilai kehidupan.

Menurutnya, sastra lisan merupakan dokumentasi penting yang merekam pemikiran, nilai, dan falsafah masyarakat. Oleh karena itu, pelestariannya harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya adaptasi sastra lisan di era digital agar tetap relevan bagi generasi muda. Di Malaysia, berbagai upaya telah dilakukan, seperti digitalisasi karya, dokumentasi, hingga transformasi ke dalam bentuk audio visual dan animasi.

“Kita harus memanfaatkan teknologi untuk mendekatkan sastra lisan kepada generasi muda. Mereka hidup di dunia digital, maka sastra juga harus hadir di sana,” ujarnya.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa sastra lisan juga dapat dikembangkan dalam sektor industri kreatif dan pariwisata, sehingga tidak hanya lestari, tetapi juga memberi nilai ekonomi.

Dialog ini ditutup dengan penampilan Parade Baca Puisi PPN XIV dari 14 Negara feat Komunitas Sastra Bukit Barisan (KSBB).

Dialog kebudayaan ini menjadi ruang penting bagi para sastrawan dan budayawan Nusantara untuk bertukar gagasan sekaligus merumuskan langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan sastra lisan di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi.(Rnld)

Exit mobile version