Kabarnanggroe.com, Aceh Besar — Tidak ada jiwa yang akan suci dengan angan-angan, karena itu sucikan jiwa dengan tarbiyah (pendidikan), muhasabah (introspeksi), dan kesabaran. Demikian pula, mengikuti hawa nafsu akan menghalangi zikir kepada Allah, melemahkan hati, memutuskan jalan istiqamah seorang hamba.
Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustaz Avrril Abdi Mubaroq menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ PMDG Kampus 8, Seulimuem, Aceh Besar, (24/7/2026).
Ia menambahkan, orang yang diberi taufik adalah orang yang memerangi jiwanya di atas ketaatan, menyelisihi hawa nafsunya ketika ia memalingkannya dari perintah Allah dan memperbanyak memohon kepada tuhannya agar dia meneguhkannya di atas syariat dan petunjuknya.
Hidayah tidak dimiliki kecuali olehnya, dan taufik adalah teman bagi orang yang memerangi hawa nafsunya. “Dan Orang-orang yang berjihad di jalan kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut: 69)
Ustaz Abdi menjelaskan, bukanlah orang kuat itu yang menuruti semua yang disuruh jiwanya, tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika hawa nafsu datang dan menahannya pada batas-batas Allah.
Kekuatan yang hakiki adalah kekuatan iman, kekeuatan tekad, dan kekuatan keteguhan hati di atas kebenaran ketika ada seruan hawa nafsu.
Pada bagian lain Ustaz Abdi menyampaikan, Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk dengan hikmah yang agung dan tujuan yang mulia. Dia tidak menciptakan mereka sia-sia, dan tidak membiarkan mereka terlantar.
Ia menciptakan mereka untuk beribadah kepadanya, mengesakannya dan taat kepadanya. “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ia mengatakan, ibadah adalah tujuan keberadaan manusia. Dengan ibadah, hati menjadi baik, kehidupan menjadi lurus, dan jiwa menjadi tenang. Barang siapa menghadap ke Allah, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan meskipun sedkit hartanya.
Barang siapa berpaling darinya, maka dia akan hidup dalam kesepian meskipun memiliki seluruh isi dunia.
Ustad Abdi menegaskan, kebaikan seorang hanba adalah ketika dia menyadari kefakirannya kepada Allah, berlindung kepadanya dan tidak bersandar kepada daya dan kekuatannya sendiri. Barang siapa menyadari kelemahannya, maka dia akan fakir kepada Allah, maka Allah akan menolongnya.
Ustad Abdi mengingatkan, jangan menyerah pada kelemahan jiwa dan jangan jadikan hawa nafsu sebagai pemimpin kalian, sebab jiwa bisa diperbaiki dan hati bisa dididik. Barang siapa jujur kepada Allah, maka Allah akan menolongnya.(*)
