Kabarnanggroe.com, Aceh Tamiang – Ketua Ikatan Sarjana Al Washliyah (ISARAH) Kota Langsa, Mahlianurrahman, mengajak komunitas penggerak literasi untuk menjadikan potensi lokal sebagai kekuatan utama dalam merancang program yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, pengembangan literasi tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga harus mampu membangun karakter serta mendorong perubahan sosial melalui kolaborasi yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Balai Bahasa Aceh di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Tamiang, 22/7/2026).
Kegiatan yang akan berlangsung hingga Kamis 23 Juli 2026 tersebut, diikuti 40 penggerak literasi dari berbagai komunitas, dan dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Aceh Tamiang serta dihadiri Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, S.S., M.Hum.
Dalam paparannya, Mahlianurrahman menilai setiap daerah memiliki kekayaan budaya, sejarah, bahasa, hingga kearifan lokal yang dapat diangkat menjadi materi dan program literasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan literasi tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi mampu memberikan manfaat yang nyata.
“Setiap daerah memiliki potensi lokal yang dapat menjadi bahan dalam menjalankan program literasi. Potensi tersebut harus diangkat menjadi program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sehingga bermanfaat secara nyata,” ujar Mahlianurrahman.
Dosen Universitas Samudra itu menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah komunitas literasi tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari kemampuan program tersebut membentuk karakter masyarakat dan menciptakan budaya belajar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Komunitas literasi harus mampu menghadirkan program yang tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga membentuk karakter dan memberi dampak positif dalam kehidupan masyarakat. Literasi akan bernilai ketika mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha hingga organisasi masyarakat. Menurutnya, kolaborasi akan memperkuat keberlanjutan program sekaligus memperluas jangkauan manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Komunitas tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dan kolaborasi memperkuat dampak program, memperluas jejaring, sekaligus membuka peluang terciptanya inovasi,” tegasnya.
Melalui bimbingan teknis tersebut, para peserta diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dalam menyusun program literasi yang lebih profesional, inovatif, dan berbasis potensi lokal. Dengan begitu, komunitas literasi di Aceh dapat tumbuh menjadi mitra strategis dalam membangun budaya literasi yang kuat sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.(Wahyu/*)
