Kabarnanggroe.com, Banda Aceh — Ketua DPD Partai Demokrat Aceh periode 2026–2031, Dr Sayuti Abubakar, menyampaikan pidato perdananya pada Silaturahmi dan Rekonsiliasi bersama Ketua Terpilih Dr Sayuti Abubakar di Kantor DPD Partai Demokrat Aceh, Luengbata, Banda Aceh, Minggu (20/9/2026).
Dalam pidato tersebut, Sayuti menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin bekerja sendiri. Ia mengajak seluruh kader dan pengurus Demokrat Aceh membangun kekuatan partai melalui konsolidasi dan kerja bersama.
Sayuti mengungkapkan sedikitnya empat persoalan internal yang harus segera dibenahi, yakni struktur organisasi yang belum optimal, regenerasi yang belum berjalan maksimal, basis data kader yang belum terintegrasi, serta basis akar rumput yang dinilainya belum tumbuh kuat.
Menurutnya, pembenahan struktur harus diikuti dengan penguatan kualitas kader. Demokrat Aceh, kata Sayuti, harus mulai memberi ruang lebih besar kepada generasi muda, termasuk kalangan milenial dan jaringan pesantren.
“Ke depan kita perlu bekerja. Tidak mungkin bekerja sendiri,” tegas Sayuti.
Ia juga menekankan pentingnya membangun basis politik hingga ke tingkat akar rumput. Menurutnya,
Demokrat Aceh memiliki modal sebagai partai nasional yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat jaringan dan memperluas basis dukungan di Aceh.
Selain persoalan internal, Sayuti menyebut Demokrat Aceh juga menghadapi tantangan eksternal, baik dari partai nasional maupun partai lokal yang memiliki basis politik kuat di Aceh.
Karena itu, ia mendorong Demokrat Aceh lebih aktif membawa isu-isu strategis yang menyangkut kepentingan masyarakat Aceh, termasuk pengelolaan sumber daya alam dan perjuangan terhadap kepentingan Aceh dalam kerangka Undang-Undang Pemerintahan Aceh.
Sayuti juga menyampaikan target politik yang harus diperjuangkan Demokrat Aceh ke depan, termasuk peningkatan perolehan kursi legislatif. “Yang paling penting nantinya adalah konsolidasi,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Sayuti secara khusus menyampaikan apresiasi kepada drh. Nurdiansyah Alasta yang menjadi salah satu kandidat Ketua DPD Demokrat Aceh dalam Musda VI.
Sayuti menyebut perbedaan pilihan dalam Musda merupakan bagian dari proses demokrasi di internal partai. Ia mengaku menghargai keberanian dan militansi Nurdiansyah selama proses tersebut.
Menurut Sayuti, militansi seperti yang ditunjukkan Nurdiansyah dibutuhkan Demokrat Aceh untuk menghadapi tantangan politik ke depan.
“Perbedaan cukup sampai di sini. Ke depan mari sama-sama kita bergandengan tangan, bekerja sama untuk memajukan Demokrat Aceh,” kata Sayuti.
Ia menegaskan tidak ingin membawa dendam dari proses Musda. Seluruh kader, termasuk mereka yang sebelumnya berada di posisi berbeda, diharapkan kembali bersatu membesarkan Partai Demokrat Aceh.
Sayuti juga menegaskan arah kepengurusan Demokrat Aceh ke depan akan memperkuat karakter partai sebagai kekuatan nasionalis-religius, termasuk dengan melibatkan lebih banyak jaringan pesantren dan generasi muda.
“Kita kembali bersama. Nasionalis, religius,” ujarnya.
Pidato perdana tersebut menjadi penegasan awal Sayuti setelah ditetapkan sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Aceh periode 2026–2031, dengan agenda utama konsolidasi, pembenahan struktur, penguatan kaderisasi dan perluasan basis politik menuju Pemilu 2029.(Hadi)
