Kabarnanggroe.com, Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei, Himpunan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan (HMP IP) HMP Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry menggelar kegiatan *Book Talk* yang membahas novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J.S. Khairen. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi literasi, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan perasaan antar sesama pengurus HMP IP.
Berbeda dengan diskusi buku pada umumnya yang dipenuhi ulasan teoritis, book talk kali ini berlangsung hangat dan penuh emosi. Novel yang mengangkat perjuangan keluarga sederhana tersebut berhasil membawa peserta larut dalam suasana cerita. Ada yang tertawa ketika membahas bagian-bagian lucu dalam novel, ada pula yang menitikkan air mata ketika mengingat perjuangan orang tua masing-masing. Bahkan, kisah romansa antara Zenna dan Asrul dalam novel turut menjadi pembahasan menarik yang menghidupkan suasana sharing session.
Ketua Umum HMP IP, Az-zahraturrima, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa novel tersebut bukan sekadar cerita keluarga biasa, melainkan cerminan perjuangan hidup yang dekat dengan realitas masyarakat. Ia menekankan bagaimana tokoh-tokoh dalam novel berusaha keluar dari lingkaran kemiskinan melalui pendidikan dan kerja keras.
Menurutnya, pesan paling kuat dari novel ini adalah tentang keberanian untuk memutus rantai kemiskinan keluarga. Di tengah keterbatasan ekonomi dan banyaknya anggota keluarga, tokoh-tokoh dalam cerita tetap memiliki mimpi besar untuk menjadi sarjana dan mengubah nasib keluarga mereka. Nilai inilah yang kemudian menjadi motivasi bagi para peserta yang hadir.
“Kadang kita merasa hidup kita berat, tetapi lewat novel ini kita belajar bahwa perjuangan orang tua dan anak-anak di dalamnya jauh lebih besar. Mereka tidak menyerah dengan keadaan.”
Book talk ini juga memperlihatkan bahwa buku masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan era digital. Sebuah novel mampu menjadi media refleksi, mempertemukan pengalaman pribadi, serta menumbuhkan empati antar pembaca. Melalui kegiatan sederhana seperti diskusi buku, mahasiswa tidak hanya diajak membaca, tetapi juga memahami makna kehidupan dari setiap cerita yang dibaca.
Peringatan Hari Buku Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni semata. Kegiatan yang dilakukan oleh HMP Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry menjadi contoh bahwa literasi dapat dibangun dengan cara yang dekat dengan generasi muda: santai, hangat, namun tetap bermakna. Sebab pada akhirnya, buku bukan hanya tentang halaman-halaman yang dibaca, melainkan tentang pelajaran hidup yang tumbuh setelahnya.
