Kabarnanggroe.com, ACEH SINGKIL – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Aceh Singkil menggelar diskusi sejarah untuk menelusuri titik awal peradaban Singkel sekaligus mendorong upaya penetapan hari jadi daerah tersebut, Jumat (16/10/2026).
Diskusi bertajuk Menelusuri Titik Awal Singkel dalam Lintasan Abad, Mengungkap Jejak Sejarah dan Usia Peradaban” itu berlangsung di Senina Cafe, Pulo Sarok, Singkil.
Kegiatan ini dibuka oleh Ir. H. Muzni, SP, Koordinator Presidium MD KAHMI Aceh Singkil. Sementara itu, jalannya diskusi dimoderatori oleh Mustafa, SE., MM., yang juga menjabat Sekretaris Umum MD KAHMI Aceh Singkil.
Tulisan Suhardin Djalal yang dimuat di Serambi dengan judul Ketika Daerah Lain Menetapkan Hari Jadinya Ratusan Tahun, Bagaimana Singkel Menatap Sejarahnya?” menjadi pemicu adanya diskusi ini.
Suhardin sebagai pemantik diskusi mengatakan, tulisannya berangkat dari pengamatan terhadap sejumlah daerah lain di Aceh yang memperingati hari jadi dengan usia ratusan tahun. Hal itu kemudian memunculkan pertanyaan mengenai usia Singkel yang selama ini juga dikenal memiliki sejarah panjang. Tidak terbatas pada usia sesuai otonomi daerah modern ini.
“Tulisan saya itu berangkat dari amatan saya terhadap daerah-daerah lain di Aceh yang memperingati usianya ratusan tahun, sehingga bertanya-tanya bagaimana kemudian usia Singkel yang sering saya dengar juga punya sejarah panjang, kata Suhardin Djalal.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Muhajir Al Fairusy, akademisi, antropolog, dan penulis buku “Singkel: Sejarah, Etnisitas dan Dinamika Sosial”, memaparkan dua opsi untuk menentukan titik awal Singkel dalam lintasan sejarahnya.
“Kalau kita mau menetapkan titik awal Singkel dalam lintas sejarahnya, kita bisa pakai dua opsi.
Pertama, Singkel bagian daripada Fansur pengimpor kapur barus untuk mengawetkan mumi di Mesir itu, ini abad ke-2 Masehi.
Kedua, Singkel sebagai pusat perdagangan rempah-rempah sampai kemudian melahirkan ulama sekaliber Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf As-Singkily, kita bisa gunakan tahun 1400-an,” kata Muhajir.
Dua opsi tersebut menjadi bahan diskusi untuk melihat sejarah Singkel dari perspektif perdagangan dan perkembangan intelektual Islam. Opsi pertama menitikberatkan pada keterkaitan Singkel dengan Fansur dan perdagangan kapur barus sejak masa lampau, sedangkan opsi kedua melihat perkembangan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan rempah-rempah serta kemunculan ulama besar.
Selain pemaparan narasumber, diskusi berlangsung aktif dengan keterlibatan peserta yang tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi juga menyampaikan pandangan dan informasi mengenai sumber-sumber sejarah Singkel.
Salah seorang peserta turut menyinggung catatan Tome Pires, penjelajah Portugis yang mendokumentasikan berbagai wilayah dan aktivitas perdagangan di Asia pada awal abad ke-16. Penyebutan nama Singkel dalam catatan yang dikaitkan dengan tahun 1512 menjadi salah satu hal yang dinilai perlu ditelusuri lebih lanjut.
Diskusi juga menyoroti temuan benda-benda bersejarah berupa koin, cawan, dan tembikar yang dikaitkan dengan Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Ming. Temuan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai kemungkinan hubungan Singkel dengan jaringan perdagangan dan interaksi antarkawasan pada masa lalu.
Berbagai pandangan yang muncul memperlihatkan perlunya kajian lebih lanjut dengan melibatkan sumber tertulis, penelitian arkeologis, serta pendekatan sejarah dan antropologi untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai perjalanan Singkel.
KAHMI Siapkan Rekomendasi kepada Pemkab
Ketua MD KAHMI Aceh Singkil mengatakan, diskusi tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi upaya lebih lanjut dalam menetapkan Hari Jadi Singkel.
“Diskusi ini menjadi awal untuk upaya lebih lanjut kita menetapkan hari jadi, tentu perlu kajian lebih lanjut dan terbuka,” kata Ketua MD KAHMI Aceh Singkil.
Ia menyampaikan bahwa pihaknya akan menyusun rekomendasi hasil diskusi untuk disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.
Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk menindaklanjuti kajian sejarah Singkel, termasuk mendorong pelaksanaan seminar internasional yang melibatkan sejarawan, arkeolog, antropolog, akademisi, dan peneliti.
Melalui seminar tersebut, berbagai sumber sejarah diharapkan dapat dikaji secara lebih mendalam dan terbuka sehingga penetapan hari jadi memiliki landasan ilmiah yang kuat.
Upaya ini tidak hanya menyangkut penentuan tanggal peringatan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar memahami identitas dan perjalanan sejarah masyarakat Singkel.
Dengan melibatkan berbagai pihak dan membuka ruang bagi beragam perspektif, penelusuran sejarah Singkel diharapkan dapat menghasilkan rumusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis serta menjadi kebanggaan masyarakat Aceh Singkil lintas generasi.(Herman/*)
