Kala Messi Menjelma Gravitasi & Atlanta Stadium Jadi Ruang Hampa

Lionel Messi, FOTO/Masashi Hara/Getty Images

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Pada satu momen itu, Lionel Messi membuat hampir seluruh penonton di Atlanta Stadium berdiri dari kursinya. Saat bola yang lepas dari kaki kanan Messi itu mengudara, orang-orang menanti.

Kubu Argentina maunya bola itu berakhir di gawang. Inggris tentu berharap sebaliknya, agar bola bisa selekas mungkin disapu menjauh. Kita semua tahu hasilnya: Lautaro Martinez yang muncul dan menjadikannya gol.

Tapi hari ini kami di stadion menjadi saksi, La Pulga menjelma sebagai gravitasi dan mengubah Atlanta Stadium menjadi ruang hampa. Di ruang hampa, semua benda tunduk pada gravitasi yang sama: tidak peduli tua atau muda, besar maupun kecil, seringan kapas atau seberat baja.

Layaknya gravitasi, Messi melakukan hal yang sama. Ia menarik perhatian semua orang di stadion, tanpa membedakan siapa mereka.

Hampir setiap serangan Argentina bermuara kepada La Pulga. Sebaliknya, kepada Messi-lah para pemain Inggris mengarahkan antisipasi terbesar.

Semua mata mengarah kepada Lionel Messi. Pendukung Argentina, Inggris, hingga penonton netral sama-sama menunggu sesuatu dari kaki kirinya.

Yang membedakan hanya perasaan yang mengiringinya. Argentina penuh harapan, Inggris diselimuti kekhawatiran.

Lalu tibalah di menit-menit kritis itu. Ketika Messi menerima bola di sisi kanan, satu stadion serempak berdiri.

Gemuruh langsung pecah tatkala gol kemenangan dari Martinez tercipta. Bersamaan dengan bergoyangnya lantai tribun, nyanyian fans Argentina menggema.

Lionel Messi, si kutu yang bikin Inggris garuk-garuk kepala, berlutut di lapangan dan merayakannya dengan emosional.

Di Atlanta, Messi tak harus mencetak gol untuk menjadi pusat permainan. Ia cukup menyentuh bola, dan semua yang ada di sekelilingnya ikut bergerak. Seperti gravitasi, semua mata, semua langkah, dan semua harapan tertarik kepadanya.(Muh/*)

Exit mobile version