Karena Terpaksa Aku Terbiasa

Kabarnanggroe.com, Terpaksa? Dipaksa? Atau Memaksakan? Bagi kita semua kalimat ini terkesan tidak menarik, menyusahkan, dan tidak memberikan hal membahagiakan bagi diri kita. Tapi, sini-sini Pian kasih tau, kalau ada hal menarik dari kalimat ini.

Halo semuanya, perkenalkan  nama saya Aprian Soleh Foryani Harefa, akrabnya dipanggil Pian, saat ini pian menjadi mahasiswa aktif di Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan segudang Prestasi, serta mendapatkan amanah menjadi Duta Wisata sektor Ekonomi Kreatif Banda Aceh 2025. Disini, Pian mau berbagi  cerita dan opi tentang kata “PAKSA”, tentunya kita tidak asing lagi dengan kata ini, kata yang terkesan negatif bagi sebagian banyak orang. Akan tetapi, sebenarnya, kata ini mengandung banyak makna yang bisa mengupgrade diri kita semua. Penasaran?, baiklah ini dia ceritanya….

Pian berasal dari desa kecil yang ada di Kabupaten Nagan Raya, saat ini berani merantau ke Banda Aceh untuk menimbah ilmu, pengalaman, wawasan, dan tentunya mengupgrade diri. Satu Pertanyaannya, “Kok berani bersinar ditanah orang?”, sejak kecil, Pian sudah diajarkan untuk selalu berani dimanapun pian berada, tentunya untuk menumbuhkan rasa ini, dibutuhkan waktu yang cukup lama, semasa kecil dulu tepatnya saat jenjang Sekolah Dasar, Pian adalah anak yang tidak berani untuk berdiri di depan orang banyak, enggan untuk berbicara dengan orang yang kurang dekat secara kekeluargaan. Tentu, ini menyebabkan rasa percaya diri sulit berkembang, dan air mata selalu ingin menetes karena rasa takut yang bergejolak. Sampai pada akhirnya, Pian menemukan jalan keluar dari perkataan orang tua Pian sendiri, yang mengatakan “Laki-laki itu harus berani bang, harus dipaksa, karena nanti dia yang memimpin”.

Dunia perlombaan, adalah faktor terkuat yang dapat memaksakan Pian untuk termotivasi tampil lebih berani, perlombaan itu adalah “MTQ” dan “LKJS”, dua ajang perlombaan yang memiliki latar belakang, isi, dan konsep pelaksanaan yang berbeda. Pada awalnya, tidak ada keinginan untuk ikut berpastisipasi pada kedua ajang ini, sampai pada akhirnya, dipaksa oleh guru karena tidak ada siswa yang ingin ikut untuk menjadi perwakilan dari sekolah. Saat itu, sepulang dari sekolah, Pian menjumpai orang tua untuk membahas hal ini, awalnya, Pian menolak dengan alasan “Nggak berani, takut kalah”, disaat itu juga, orang tua Pian memberikan perkataan pembangkit motivasi yang berisi “Abang pengen lihat mama sama ayah bangga kan?, nggak usah pikir menang atau kalah, udah ikut aja bikin bangga kok, Laki-laki itu harus berani bang, harus dipaksa, karena nanti dia yang memimpin”. Perkataan itu, berhasil memadamkan rasa takut, sekaligus memukul Pian untuk lebih baik kedepannya, dengan menjadikannya sebagai motivasi, sekaligus bahan pengingat guna memaksaan diri sendiri untuk meraih hal terbaik.

Pada akhirnya, Pian mengikuti ajang ini dengan modal paksaan dan motivasi besar, serta memegang prinsip “Jika sudah berani memulai, maka tuntaskan”. Alhasil, Pian berhasil menorehkan prestasi pertama dalam dua ajang yang berbeda, prestasi ini memunculkan rasa bangga, ketagihan karena dapat penghargaan, dan memancarkan senyum lebar pada kedua orang tua Pian, yang tentunya senyum kedua orang tua, menjadi kekuatan terbesar untuk terus memaksakan diri meraih hal terbaik. Sampai saat ini, Paksaan ingin membanggakan kedua orangtua serta Motto diri  “Never Stop Improving Your Self” sudah Menjadikan Pian untuk terbiasa lebih berani, lebih baik, dan selalu ingin bersinar dimanapun Pian berada. Perlu diingat, bahwa “Karena Terpaksa, Aku Terbiasa”.

Penulis : Aprian Soleh Foryani Harefa

 

 

 

Exit mobile version