Asa Pembukaan Hormuz, Minyak Berpotensi Drop ke US$70 Semester II

Depot penyimpanan minyak Unitank di sepanjang Kanal Teltow di Berlin, Jerman. FOTO/Bloomberg

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Analis komoditas melihat harga minyak mentah acuan dunia, Brent, berpeluang makin turun ke level US$70-an per barel pada semester II-2026 jika pembukaan Selat Hormuz menyusul kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran berjalan lancar.

Analis komoditas dan founder Traderindo Wahyu Laksono menyebut keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyelesaikan kesepakatan dengan Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz berpotensi mendorong turunnya harga minyak secara umum.

Bahkan, menurutnya, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bisa saja turun hingga ke level US$65/barel pada paruh kedua tahun ini.

“Tren harga minyak WTI sudah anjlok hari ini dan berada di kisaran US$81/barel. Untuk outlook semester II, harga minyak WTI bisa US$65—US$95 per barel dan untuk Brent US$70—US$100 per barel,” kata Wahyu saat dihubungi, Senin (15/6/2026).

Wahyu menambahkan ambrolnya harga minyak awal pekan ini mencerminkan sikap pasar yang mulai mencerna (pricing in) berkurangnya ketidakpastian geopolitik.

Menurutnya, meredanya premi risiko (risk premium) di Timur Tengah secara otomatis memangkas kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.

“Harga minyak dunia kemungkinan besar tidak akan mencapai level ekstrem yang sempat ditakuti pasar, seperti US$200/barel. Faktor utamanya adalah jalur logistik paling kritis di dunia, Selat Hormuz, tetap terbuka dan pasokan kembali stabil,” tambahnya.

Konsolidasi Baru
Lebih lanjut, Wahyu berpandangan era volatilitas ekstrem akibat letupan geopolitik dinilai mulai bertransisi menuju fase konsolidasi baru.

Konsensus analis kini mengalihkan fokus dari tensi militer ke fundamental pasar, khususnya keseimbangan antara meredanya risiko geopolitik dan proyeksi permintaan global yang sebenarnya.

Meskipun demikian, Wahyu mengingatkan bahwa penurunan harga minyak tidak akan terjadi tanpa batas. Pasar masih akan ditopang oleh dinamika kebijakan produksi dari kartel minyak OPEC+.

“Penurunan harga tetap akan dipengaruhi oleh dinamika kebijakan produksi OPEC yang cenderung disiplin dalam menjaga stabilitas pasar,” ungkapnya.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 4,7% menjadi US$83,23/barel pada pukul 11:07 pagi di Singapura, usai ditutup di level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Mengikuti Brent, WTI untuk pengiriman Juli turun 5,5% menjadi US$80,23/barel.
Untuk diketahui, AS dan Iran resmi menyepakati perjanjian perdamaian untuk mengakhiri perang, pada Minggu (15/6/2026).

Presiden AS Donald Trump mengatakan, Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah penandatanganan kesepakatan damai dengan Iran yang direncanakan digelar pada Jumat (19/6/2026) di Swiss.

“Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, bersamaan dengan itu, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,” kata Trump melalui Truth Social, Senin (15/6/2026).

“Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” sambungnya.

Trump mengklaim kesepakatan damai ini akan membawa perdamaian dan keamanan di seluruh kawasan.

Pasar energi global telah berada dalam bayang-bayang perang sejak konflik pecah pada akhir Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran untuk membatasi program nuklirnya.

Respons Teheran mencakup serangan di kawasan Teluk Persia serta penutupan Selat Hormuz, yang pada masa damai menjadi jalur sekitar seperlima aliran minyak dunia.

Secara terpisah, pasukan AS juga memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran.

Setelah harga minyak melonjak pada fase awal konflik, harga mulai terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir menyusul berulang kali munculnya sinyal bahwa Washington dan Teheran makin dekat dengan kesepakatan.

Selain itu, terdapat indikasi bahwa sebagian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali berlangsung.

Di sisi lain, negara-negara maju juga menggunakan cadangan minyak darurat mereka, sementara sejumlah negara pengimpor utama—terutama China—mengurangi volume impor.

Meski kesepakatan ini menjadi kabar baik bagi produsen energi di kawasan Teluk Persia, industri pelayaran global, dan para konsumen, masih terdapat sejumlah hambatan sebelum lalu lintas melalui Selat Hormuz dapat sepenuhnya pulih.

Hambatan tersebut antara lain pembersihan ranjau anti-kapal serta kejelasan mengenai keinginan Teheran untuk menerapkan kontrol yang lebih besar terhadap kapal-kapal yang melintas.(Muh/*)

Exit mobile version