Sisi Gelap “Flexing”: Saat Konten Mewah Menjerat Mentalitas Remaja Aceh

* Oleh: Rafiq Al Hariry, (Mahasiswa - Psikologi Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-raniry)

Rafiq Al Hariry, (Mahasiswa - Psikologi Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-raniry)

Kabarnanggroe.com, ​​Banda Aceh menyuguhkan pemandangan deretan kafe yang setiap sudutnya seringkali menampilkan cerita yang sama. Kelompok remaja perempuan di mengatur sudut letak kamera, menata barang-barang bermerek di atas meja, lalu memotret berulang kali untuk mendapatkan satu hasil foto sempurna untuk unggahan media sosial. Perilaku ini di istilahkan dengan kata “Flexing”, memamerkan kemewahan demi kepuasan batin saat banyak orang memberikan like, berkomentar atau mungkin hanya sekedar melihat unggahan tersebut. Menarknya, dibalik kurasi foto yang tampak wah, tersimpan sebuah realita yang sangat kontras diikuti beban psikologis yang menyesakkan.

Tren media sosial yang tampak biasa ini merupakan sebuah fenomena aneh. Budaya di Aceh yang secara khitmatnya menjunjung tinggi nilai kesederhanaan dan syariat, flexing merupakan sebau anomali dalam budaya yang sangat berbahaya. Dari sudut pandang saya sebagai seorang mahasiswa psikologi, terlihat pergeseran dari nilai bersyukur ata pemberian Allah Subhanahu Wata’ala menjadi memaksa diri demi pengakuan manusia yang fana.

Jeratan Psikologis: Narcissism dan Depresi Perbandingan

​Secara klinis, perilaku pamer yang berlebihhan seringkali beririsan dengan narcissistic personality traits. Muncul rasa ketidakpuasan akan kekaguman dari orang yang menjadi kebutuhan personal untuk menutupi rasa rendah diri di dunia nyata. Panggung yang sangat sempura ini disediakan percuma oleh media sosial, dan tanpa disadari panggung ini juga bagai pedang bermata dua.

​Berdasarkan Social Comparison Theory (Teori Perbandingan Sosial), kecenderungan manusia menilai harga dirinya dengan menarik garis perbandingan dengan oran glain menjadi pemicu awal munculnya rangkaian kejadian ini. Masalah di media sosial yang muncul, remaja perempuan Aceh tidak membandingkan diri hanya dengan teman sekelasnya atau disekitarnya saja, tapi lebih luas dengan gaya kehidupan selebriti global. Ketidak mampuan ekonomi keluarga secara realita untuk mengejar standar tersebut, muncul gap psikologi yang dalam dan bergejolak hebat.

Rasa ketidakpuasan kronis ini mengawali tanda awal masuk menuju tangga depresi. Perasaan gagal menjadi manusia muncul hanya dikarenakan tidak memiliki tas bermerek, atau tidak bisa nongkrong menghabiskan waktu akhir pekan ditempat bergengsi dengan cost yang mahal. Mereka mencari kebahagiaan bukan lagi dari hati, melainkan dari jumlah jempol digital dan komentar memuji, menyanjung dari orang-rang yang sebenarnya tidak mereka kenal sama sekali.

​​Realitas Pahit: “Memantaskan Diri” Lewat Pinjaman Online

​Di Aceh, dampak flexing sudah sangat mengkhawatirkan. Jeratan finasial demi membangun citra publik yang tidak nyata, demi sebuah konten yang dibanjiri acungan jempol digital, banyak remaja di Aceh yang memaksakan diri tampil seperti seorang yang status sosial-ekonominya berada wlaupun dalam realitasnya belum mampu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis data yang menunjukkan tren penggunakan PayLater dan pinjaman Online di kalangan anak muda Aceh terus meningkat.

​Mirisnya, pinjaman tersebut tidak sigunakan untuk sesuatu yang produktif atau invetasi dalam keilmuan, melainkan untuk konsumsi gaya hidup di luar standar kemampuan individu dan memegang teguh pada istilah “biar gaya walau berhutang”. Sangat ironis melihat peristiwa ini terjadi di Aceh. Islam mengajarkan kita untuk menjauh dari hutang jika tidak mendesak, apa lagi hutang yang didalamnya terdapat unsur riba, hanya untuk mengejar kebahagiaan yang semu.

​Secara psikologis, beban hutang di usia muda menciptakan kecemasan tinggi (anxiety). Fokus remaja yang seharusnya ditujukan pada aktivitas belajar, justru dihantui pemberitahuan untuk melunasi tagihan setiap bulannya. Tidak jarang bahkan, remaja – remaja yang beraal dari daerah untuk niat awal melanjutkan pendidikan, berubah niat dengan standar ini dan mengelabuhi orang tua dengan berbagai alasan untuk mendapat uang menutupi hutang yang sebenarnya tidak urgen. Ini merupakan kemiskinan mental, dimana seseorang merasa kaya di layar ponsel, namun tercekit penderitaan di kehidupan nyata.

Mengembalikan Nilai Qana’ah dan Kesederhanaan

​Fokus utama yang kembali harus di bangun kembali dengan menumbuhkan budaya Qana’ah atau merasa cukup dan bersyukur dengan pemberian dari Allah Subhanahu Wata’ala dan tidak berlebihan – lebihan dengan urusan dunia. Istilah riya’ dalam Islam sudah menjelaskan bahwa itu merupakan perilaku sombong yang dilarang. Allah Subhanahu Wata’ala dalam firman-nya Q.S Luqman ayat 18 : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

​Validasi terhadap perilaku flexing perlu di hentikan dalam masyarakat kita. Lingkungan sosial di Aceh juga patut disalahkan terhadap perilaku istimewa yang diberikan pada mereka yang tampak kaya, menjadi pemicu remaja lain untuk meniru. Kita perlu memulai kembali untuk mempopulerkan bahwa kehormatan seseorang tidak terletak pada apa yng dikenakan, melainkan pada akhlak dan kontribusinya dalam bermusyawarah.

​Urgensi Kebijakan Sosial dan Literasi Keuangan

​Pemerintah Aceh dan lembaga pendidikan harus bergerak cepat, tidak bisa berdiam hanya memperhatikan fenomena terus berlanjut.  Kebijakan sosial yang selaras dengan nilai agama sangat diperlukan untuk membingkai dan membentengi remaja Aceh dari gaya hidup konsumtif yang berlebihan.

​Integrasi literasi keuangan syariah perlu dimasukkan dalam pengajaran sekolah dan kampus harus mengajarkan cara mengelola uang dan bahaya jeratan pinjaman online dari sisi agama dan psikologi. Dilanjutkan dengan kampanye gaya hidup bersahaja oleh tokoh agama dan pemegang kebijakan perlu secara masif dilakukan dan menekankan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai kunci kesehatan mental.

Ruang kreatif terbuka yang tidak konsumtif perlu lebih banyak disediakan untuk remaja sebagai wadah mengekspresikan diri mereka melalui prestasi, seni, dan budaya tanpa harus dikaitkan dengan pemahaman konsumerisme.

​Penutup: Bersyukur Adalah Kekayaan Sejati

​Masa muda merupakan waktu untuk membentuk jati diri. Sangat disayangkan jika energi remaja perempuan kita habis hanya untuk membangun citra palsu di media sosial. Perlu disadari bahwa flexing adalah sebuah fatamorgana, tampak indah dari jauh, tapi tidak pernah bisa memuaskan dahaga jiwa akan ketenangan. Mari kita mengajak adik – adik dan rekan – rekan kita untuk kembali membumi, hidup sederhana walaupun Allah berikan kelebihan dan hidup sederhana tanpa memaksakan diri mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan diri. Validasi digital bukan sebuah prestasi yang perlu dibanggakan, hanya kepuasan sesaat yang berpengaruh pada kesehatan mental saat ekspektasi kepuasan tidak tercapai. Dengan bersyukur, kita tidak hanya menyelamatkan finansial, tetapi juga menjaga kewarasan jiwa dalam naungan syariat. Pada akhirnya, kekayaan sejati adalah hati yang merasa cukup dengan pemberian Allah Subhanahu Wata’ala.

Exit mobile version