Kabarnanggroe.com, New York – Harga minyak mentah fisik untuk pengiriman segera melonjak ke rekor baru mendekati US$150 per barel di Eropa dan Afrika, seiring meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan akibat rencana blokade AS di Selat Hormuz.
Krisis ini dipicu kegagalan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik, yang mendorong langkah Washington membatasi lalu lintas kapal di jalur vital tersebut.
Sementara itu, harga minyak acuan Brent crude untuk kontrak Juni naik sekitar 6% ke atas US$100 per barel, masih di bawah rekor sepanjang masa tahun 2008.
Namun, harga minyak fisik justru melampaui level tersebut karena pasokan langsung semakin langka, mengutip dari Reuters.
Minyak jenis Forties dari Laut Utara tercatat mencapai US$148,87 per barel, melampaui puncak tahun 2008.
Kenaikan tajam ini mencerminkan lonjakan permintaan dari kilang di Eropa dan Asia yang mencari alternatif pasokan non-Timur Tengah.
Lonjakan harga juga terjadi pada produk olahan. Harga bahan bakar jet masih bertahan dekat US$200 per barel, hampir dua kali lipat sejak konflik dimulai, sementara diesel di Eropa Barat Laut naik hingga sekitar US$170 per barel.
Kondisi ini memperparah tekanan energi di Eropa yang sangat bergantung pada impor.
Data menunjukkan sebagian besar pasokan bahan bakar jet dan diesel kawasan tersebut berasal dari Timur Tengah, sehingga gangguan di Hormuz berpotensi memicu krisis pasokan dalam waktu dekat.
Pelaku industri memperingatkan, tanpa pembukaan kembali jalur tersebut, Eropa bisa menghadapi kekurangan bahan bakar jet dalam hitungan minggu.(Muh/*)
