Dari Meja Makan hingga Tradisi, Persahabatan FFI Brasil-Aceh

Delegasi FFI (Friendship Force International) Brasil-Aceh foto bersama dalam kegiatan Rapai Debus di Calang Bungalow, Aceh Jaya, Provinsi Aceh. FOTO/ Muslim

Kabarnanggroe.com, Sabang – Persahabatan kadang tidak dimulai dari pertemuan resmi. Keakraban bisa tumbuh dari sepiring makanan, percakapan di ruang tamu atau dari pintu rumah yang terbuka untuk seorang tamu yang datang dari negeri jauh.

Itulah yang terjadi ketika enam delegasi Friendship Force International (FFI) dari Brasil berkunjung ke Aceh, 5-12 Agustus 2026.

Melalui program pertukaran budaya Journeys, mereka tidak datang sekadar sebagai wisatawan, tetapi tinggal bersama keluarga anggota FFI Aceh dan menjalani keseharian bersama tuan rumah.

Di balik agenda perjalanan, ada pengalaman yang tidak tercatat dalam brosur wisata. Para tamu dari negeri Samba itu duduk bersama keluarga Aceh, mencicipi makanan lokal, berbincang, dan mengenal kebiasaan masyarakat dari jarak yang paling dekat, yaitu dari dalam rumah.

“Kami ingin teman-teman dari Brasil tidak hanya melihat Aceh sebagai tempat wisata. Kami ingin mereka merasakan Aceh dari dalam rumah, duduk bersama keluarga, menikmati makanan kita, melihat tradisi kita, dan memahami bagaimana masyarakat Aceh menjalani kehidupan sehari-hari,” kata Ketua FFI Banda Aceh, Muslim Amiren saat diwawancara RRI, kemarin.

Didampingi Muslim Amiren bersama anggota FFI Aceh, perjalanan tersebut menjadi cara sederhana untuk mempertemukan dua kebudayaan.

Brasil dengan keragaman dan semangatnya bertemu Aceh dengan tradisi, sejarah, serta kehidupan masyarakat yang kental dengan nilai-nilai keislaman.

Dari rumah, perjalanan kemudian membawa mereka memasuki ruang-ruang budaya Aceh. Dengan hadir langsung di tengah masyarakat, para delegasi dapat merasakan bahwa budaya Aceh bukan sesuatu yang tersimpan di balik kaca museum, melainkan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

6 Orang delegasi FFI Brasil berfoto dan menikmati keindahan alam di Desa Krueng Raya, Kota Sabang. FOTO/*

“Bagi kami, Friendship Force bukan sekadar membawa tamu berkeliling dari satu destinasi ke destinasi lain. Yang paling penting adalah membangun persahabatan. Ketika mereka tinggal di rumah anggota, makan bersama dan mengikuti kegiatan masyarakat, di situlah pertukaran budaya benar-benar terjadi,” ujar Muslim.

Di Banda Aceh, perjalanan berlanjut ke Rumoh Aceh, Museum Aceh, Museum Tsunami, Masjid Raya Baiturrahman dan Kapal PLTD Apung.

Dari tempat-tempat tersebut, mereka membaca sejarah Aceh, kebudayaannya, kehidupan Islamnya, hingga kisah ketabahan masyarakat menghadapi tsunami.

Perjalanan kemudian membawa rombongan ke Aceh Jaya. Para delegasi menghadiri acara walimahan dan menyaksikan pertunjukan Rapai Debus di Calang Bungalow, Aceh Jaya.

Dalam kunjungan sebelumnya, Club Brazil FFI juga pernah menghadiri acara pernikahan di salah satu Masjid di Aceh dan mengikuti tradisi turun tanah bayi.

Dari Aceh Jaya, perjalanan berlanjut ke Sabang. Para delegasi mengunjungi Puncak GT, Benteng Jepang Mata Ie, Museum Sabang Merauke, Tugu Merah Putih dan Gunung Api Jaboy.

Mereka juga menikmati dolphin tour dan snorkeling di Pulau Rubiah, menyaksikan keindahan laut yang menjadi salah satu kekuatan wisata Aceh.

“Sabang memiliki potensi wisata yang luar biasa. Para delegasi sangat menikmati keindahan alam dan berbagai destinasi yang mereka kunjungi. Meski demikian, selama perjalanan kami juga melihat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, seperti akses menuju Gunung Api Jaboi yang kurang terawat, sampah di sekitar Pelabuhan Tugu Merah Putih serta fasilitas toilet umum di Iboih yang belum berfungsi. Tulisan pada Tugu Sabang Merauke juga sudah banyak yang hilang. Hal-hal seperti ini tentu perlu diperhatikan agar kualitas pelayanan wisata kita semakin baik,” tutur Muslim.

Menurutnya, berbagai catatan tersebut tidak mengurangi antusiasme para delegasi menikmati Sabang. Mereka tetap menikmati segudang keindahan wisata yang ditawarkan, terutama pesona Pulau Rubiah, pengalaman melihat lumba-lumba, dan snorkeling.

Antusiasme itu menunjukkan bahwa Sabang memiliki daya tarik wisata yang sangat kuat, meski peningkatan kualitas destinasi, kebersihan, aksesibilitas dan fasilitas tetap perlu dilakukan agar pengalaman wisatawan semakin baik.

“Aceh memiliki banyak hal untuk dibagikan kepada dunia, bukan hanya alamnya, tetapi juga sejarah, budaya, adat dan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Sebaliknya, kehadiran sahabat-sahabat dari Brasil juga memberi kesempatan kepada kita untuk belajar dan mengenal budaya mereka,” tutur Muslim.

Dari meja makan, mereka mengenal rasa. Dari rumah, mereka mengenal kehidupan. Dari tradisi, mereka mengenal nilai-nilai masyarakat. Dan dari perjalanan bersama, mereka menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengalaman wisata, yaitu: persahabatan.

“Kalau sebuah perjalanan bisa membuat orang yang sebelumnya tidak saling mengenal kemudian menjadi sahabat, berarti perjalanan itu sudah mencapai tujuan. Itulah semangat yang ingin kami jaga melalui Friendship Force,” kata Muslim.(Muh/*)

Exit mobile version