Kabarnanggroe.com, Paris – Kapal induk Perancis, Charles de Gaulle, pada Rabu (6/5/2026), bergerak menuju ke Laut Merah.
Hal ini dilakukan sebagai bagian dari rencana gabungan Perancis–Inggris di Selat Hormuz untuk menghadapi kemungkinan misi pemulihan navigasi.
Adapun Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memimpin misi multinasional untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, sambil menekankan bahwa pasukan tersebut akan sepenuhnya bersifat defensif dan hanya akan dikerahkan setelah perdamaian abadi di wilayah tersebut disepakati.
Juru bicara kepala staf angkatan bersenjata Perancis, Kolonel Guillaume Vernet, mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan tahap lanjutan dari pengerahan militer di Timur Tengah.
“Masuk ke selatan Suez adalah hal baru bagi kami. Secara geografis, ini lebih dekat ke Selat Hormuz dan karena itu memungkinkan kami untuk bereaksi lebih cepat, jika kondisi telah terpenuhi,” kata Vernet kepada The Associated Press.
Operasi menunggu “lampu hijau” Meski posisi kapal induk kini lebih dekat ke kawasan Selat Hormuz, Perancis menegaskan bahwa rencana operasi gabungan Perancis–Inggris belum aktif.
Menurut Vernet, terdapat dua syarat utama sebelum operasi dapat dijalankan, yaitu ancaman terhadap jalur pelayaran harus menurun dan industri pelayaran harus kembali merasa aman untuk melintasi wilayah tersebut.
“Perencanaan telah dilakukan dan sudah siap,” kata Vernet, menegaskan bahwa keputusan bergantung pada perkembangan situasi keamanan di kawasan.
Selain itu, operasi juga membutuhkan persetujuan dari negara-negara di kawasan sekitar.
“Secara geografis, Selat Hormuz saat ini terhenti karena ancaman, dan premi asuransi sangat tinggi. Tidak ada satu kapal pun yang mau mengambil risiko perjalanan ke sana,” ujar Vernet.
Rencana operasi ini merupakan bagian dari inisiatif Perancis dan Inggris yang melibatkan lebih dari 50 negara. Perencanaan militer juga telah difinalisasi dalam pertemuan internasional sebelumnya.
Vernet menegaskan bahwa operasi ini berbeda dengan misi Amerika Serikat di kawasan tersebut.
“Ini adalah misi yang berbeda dari misi Amerika,” ujarnya, sambil menyebut rencana Perancis–Inggris sebagai operasi yang bersifat defensif dan sesuai hukum internasional.
Situasi di Selat Hormuz Situasi di Selat Hormuz disebut masih terganggu akibat ancaman keamanan, yang membuat arus perdagangan laut terhenti. Sekitar 2.000 kapal dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk. Selain itu, biaya asuransi risiko perang dilaporkan melonjak beberapa kali lipat dibanding sebelum konflik.
Penempatan kekuatan militer Perancis di kawasan Selain kapal induk, pengerahan militer Perancis juga mencakup beberapa kapal perang lainnya, termasuk fregat dan kapal serbu amfibi.
Posisi baru ini juga menempatkan aset udara Perancis dalam jangkauan lebih dekat ke kawasan strategis tersebut tanpa harus langsung memasuki Teluk.
Perancis juga diketahui memiliki pangkalan udara di Uni Emirat Arab berdasarkan kerja sama pertahanan jangka panjang, yang sebelumnya digunakan untuk operasi pengawasan udara di kawasan tersebut.(Muh/*)
