Mengatur Uang, Menjaga Keluarga

Pemimpin Divisi Digitalisasi dan Layanan Kantor Pusat Bank Aceh, Syahrul Ramadhan. FOTO/ WAHYU DESMI

Kabarnanggroe.com, Aceh Besar — Penghasilan yang diterima setiap bulan tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi keuangan keluarga. Besarnya pendapatan belum menjamin kebutuhan terpenuhi jika penggunaannya tidak direncanakan.

Persoalan itulah yang menjadi perhatian Syahrul Ramadhan saat memberikan materi literasi keuangan kepada anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Aceh Besar melalui Program DWP Mengajar bertema “Cakap Membaca, Bijak Mengambil Keputusan”, di The Pade Hote, Darul Imarah, Aceh Besar, Kamis (3/9/2026).

Pemimpin Divisi Digitalisasi dan Layanan Kantor Pusat Bank Aceh tersebut mengajak peserta melihat pengelolaan keuangan dari hal paling sederhana, yakni bagaimana pendapatan dibagi sebelum digunakan.

Dalam pengelolaan keuangan keluarga, Syahrul memperkenalkan pembagian pendapatan ke dalam lima pos. Sebanyak 5 persen dialokasikan untuk zakat, infak dan sedekah, 50 persen untuk kebutuhan pokok, 20 persen untuk kewajiban dan cicilan, 15 persen untuk tabungan serta dana darurat, dan 10 persen untuk memenuhi keinginan.

Pola tersebut menjadi cara untuk memberikan batas yang jelas terhadap setiap pengeluaran. Dengan pembagian sejak awal, pendapatan tidak seluruhnya habis untuk kebutuhan yang muncul secara spontan.

Di titik inilah kebutuhan dan keinginan perlu ditempatkan secara berbeda. Kebutuhan berkaitan dengan sesuatu yang harus dipenuhi, sementara keinginan masih dapat ditunda ketika kondisi keuangan belum memungkinkan.

Sebelum mengeluarkan uang, ada tiga pertimbangan yang dapat digunakan, yaitu apakah sesuatu tersebut benar-benar diperlukan saat itu, apakah sudah ada barang atau fasilitas lain yang memiliki fungsi serupa, serta dari pos anggaran mana pengeluaran tersebut akan diambil.

Kebiasaan sederhana itu dapat membantu keluarga mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali tanpa perhitungan pun dapat menjadi kebocoran yang perlahan mengganggu anggaran rumah tangga.

Pengelolaan keuangan juga membutuhkan persiapan menghadapi kondisi yang tidak terduga. Karena itu, dana darurat menjadi salah satu bagian penting yang perlu disiapkan secara bertahap.

Untuk keluarga dengan penghasilan tetap, dana darurat disarankan tersedia sedikitnya tiga kali jumlah penghasilan. Sementara bagi keluarga dengan penghasilan tidak tetap, cadangan tersebut idealnya mencapai enam kali rata-rata penghasilan.

Dana darurat berfungsi sebagai bantalan ketika muncul kebutuhan mendesak, sehingga keluarga tidak harus langsung mencari pinjaman untuk menyelesaikan persoalan keuangan.

Hal yang sama berlaku dalam penggunaan utang. Pinjaman perlu ditempatkan sebagai kewajiban yang harus diperhitungkan, bukan sebagai cara untuk memenuhi setiap keinginan.

Pengelolaan utang yang sehat antara lain dilakukan dengan tidak menggunakan utang baru untuk membayar utang lama, menjaga cicilan agar tidak melebihi sepertiga penghasilan, serta memastikan pinjaman benar-benar digunakan untuk kebutuhan.

Keterbukaan antara pasangan juga menjadi bagian penting. Setiap kewajiban keuangan perlu diketahui dan diperhitungkan bersama agar tidak menimbulkan persoalan baru dalam rumah tangga.

Di tengah perubahan pola transaksi, pengelolaan keuangan kini juga bersentuhan langsung dengan dunia digital. Kemudahan transaksi melalui telepon genggam membuat aktivitas keuangan semakin praktis, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

Kode *One-Time Password* atau OTP dan PIN menjadi bagian yang harus dijaga kerahasiaannya. Kedua informasi tersebut merupakan akses pribadi yang tidak boleh diberikan kepada orang lain, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas bank.

Risiko lain datang melalui berbagai modus penipuan digital. Investasi bodong, pesan berkedok hadiah, donasi, salah transfer, pinjaman online ilegal hingga judi online menjadi sejumlah hal yang perlu diwaspadai.

Karena itu, literasi keuangan tidak berhenti pada kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Kemampuan membaca situasi, mengenali risiko, menentukan prioritas dan menahan diri sebelum mengambil keputusan juga menjadi bagian penting dalam mengelola keuangan.

Materi yang disampaikan Syahrul dalam Program DWP Mengajar tersebut menempatkan pengelolaan keuangan keluarga sebagai kebiasaan yang dimulai dari keputusan sehari-hari. Dari membagi pendapatan, mengendalikan keinginan, menyiapkan dana darurat, mengatur utang hingga menjaga keamanan transaksi digital.

Semua langkah itu pada akhirnya bermuara pada satu kebiasaan: menggunakan uang berdasarkan perencanaan, bukan sekadar berdasarkan keinginan.(Wahyu Desmi)

Exit mobile version