Tetaplah Setia, Kekasih! Sebuah Janji Yang Menjadi Doa

* Membaca dan Mendalami Puisi karya A Raof Penulis Malaysia

Penulis Esai : Hamdani Mulya

Penulis : Hamdani Mulya
Guru SMAN 1 Lhokseumawe, Pengamat Bahasa dan Sastra

Kabarnanggroe.com — Membaca antologi puisi Tetaplah Setia, Kekasih! karya penyair negara serumpun Malaysia, A Raof, setebal 162 halaman ini, saya terhenti lama pada satu puisi yang menjadi judul buku itu sendiri: Tetaplah Setia, Kekasih!

Puisi ini bukan puisi cinta yang bising. Ia puisi yang sunyi, tapi setianya dalam.

Pada simpulan janji lalu
Di bawah redup pohon itu
Di pinggir bening telaga itu
Tetaplah setia, kekasih!

Di bait pertama ini, A Raof tidak mengajak kita ke kota, ke mal, ke dunia modern yang gemerlap. Ia mengajak kita pulang ke alam: pohon yang redup, telaga yang bening. Di sanalah janji itu disimpul. Inilah yang dalam sastra Melayu klasik disebut sebagai pantun alam — alam menjadi saksi cinta manusia. Sangat Melayu, sangat Malaysia, sangat Indonesia, sangat kita.

A Raof Penulis Malaysia, Penulis Buku Tetaplah Setia, Kekasih!

Jika kita telisik lebih dalam, puisi ini sesungguhnya adalah pelajaran tentang kesetiaan dalam empat waktu, empat suasana hidup:

Pertama, Hari-hari siang yang riang, ketika seribu cinta datang menggoda. Inilah ujian setia di saat kita senang, sukses, banyak pilihan. A Raof mengingatkan, jangan sampai redup dan beningnya janji awal itu lenyap oleh ramainya godaan.

Kedua, Malam-malam yang syahdu, ketika janji lalu diperteguh dan rumus-rumus baru disusun. Malam adalah waktu muhasabah. Setia bukan hanya diucapkan, tapi dirumuskan kembali setiap malam dalam doa.

Ketiga, Senja-senja yang sayu, ketika mentari sujud di kaki waktu. Ini adalah fase yang paling puitis. A Raof menggunakan diksi sufistik — mentari sujud. Di usia senja, cinta tidak lagi berapi-api, tapi longlai di jeti rindu. Setia di masa tua adalah setia yang paling tulus.

Cover Buku Tetaplah Setia, Kekasih! Karya A Raof Penulis Malaysia

Keempat, Di pelabuhan itu… Inilah puncak kerinduan seorang perantau, seorang kekasih yang menunggu. Bawalah daku, kekasih! Tunggulah daku, kekasih! Kalimatnya pendek, tapi menghujam. Seperti syair-syair Melayu yang saya teliti, cinta yang sejati selalu bermuara pada pelabuhan — tempat pulang.

Kelebihan puisi A Raof ini terletak pada refrain-nya: Tetaplah setia, kekasih! yang diulang hampir di setiap bait. Pengulangan ini bukan kelemahan, tapi kekuatan. Ia seperti doa yang diulang-ulang agar meresap ke dalam dada.

Buku setebal 162 halaman ini bagi saya adalah bukti bahwa sastra serumpun Melayu, baik di Aceh maupun di Malaysia, masih berakar pada nilai yang sama: kesetiaan, alam sebagai saksi, dan cinta yang berujung pada keikhlasan.

A Raof tidak menulis cinta yang liar. Ia menulis cinta yang sabar, yang menunggu di tepi telaga, di bawah pohon, di jeti pelabuhan.

Di zaman sekarang, ketika janji begitu mudah diingkari lewat pesan singkat, puisi ini menjadi penting untuk dibaca kembali oleh anak-anak didik kita di sekolah.

Lhokseumawe, 2 November 2026

Exit mobile version