Buka Pembinaan Guru PAI, Kakankemenag Banda Aceh: Manfaatkan AI untuk Pembelajaran, Perkuat Akidah dan Bentengi Siswa dari LGBT

Kabarnanggroe.com, Banda Aceh — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Dr. H. Salman, S.Pd., M.Ag., membuka Pembinaan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Tahun 2026 yang digelar Bidang PAI Kanwil Kemenag Aceh di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Banda Aceh, Rabu, 2 September 2026.

Kegiatan bertema “Implementasi Artificial Intelligence sebagai Tools dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam” tersebut diikuti Guru PAI tingkat SD, SMP, dan SMA se-Kota Banda Aceh.

Dalam arahannya, Salman mengatakan perkembangan artificial intelligence (AI) perlu direspons Guru PAI secara bijak. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran, tetapi tidak menggantikan peran guru dalam membentuk akidah, akhlak, dan karakter peserta didik.

“AI adalah tools yang dapat membantu guru dalam proses pembelajaran. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan peran guru dalam membentuk akidah, akhlak, dan karakter peserta didik,” ujarnya.

Ia mengingatkan Guru PAI agar tidak pernah bosan mengajarkan kebaikan dan nilai-nilai Islam kepada peserta didik. Penguatan akidah dan ibadah, terutama salat, perlu terus mendapat perhatian di tengah derasnya arus informasi yang diterima anak-anak.

“Jangan pernah bosan mengajarkan hal-hal yang baik kepada anak-anak kita. Perhatikan ibadah mereka, terutama salat. Guru PAI harus membimbing anak-anak agar memiliki dasar agama yang kuat dan mampu menyaring berbagai informasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang PAI Kanwil Kemenag Aceh, Dr. Aida Rina Elisiva, B.Acc., M.M., mengatakan perkembangan ruang digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi pembentukan karakter peserta didik. Anak-anak kini dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi dan konten melalui media sosial, termasuk yang tidak sesuai dengan nilai agama dan usia mereka.

“Anak-anak sekarang berhadapan dengan banyak sekali informasi di media sosial. Karena itu, Guru PAI memiliki peran penting untuk menanamkan nilai positif dan membangun batasan dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun dunia maya,” ujar Aida Rina.

Ia mendorong Guru PAI memanfaatkan AI untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan dekat dengan dunia peserta didik, namun tetap berlandaskan nilai-nilai pendidikan Islam.

“AI dapat menjadi tools bagi guru untuk membuat pembelajaran PAI lebih kreatif dan relevan. Yang terpenting, teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat akhlak, membangun kesadaran, dan membekali anak agar bijak dalam menggunakan teknologi,” jelasnya.

Melalui pembinaan tersebut, Guru PAI diharapkan mampu mengoptimalkan AI sebagai pendukung pembelajaran sekaligus memperkuat perannya sebagai pendidik yang membimbing akidah, ibadah, akhlak, dan karakter peserta didik di tengah perkembangan teknologi digital.(Herman/Rara)

Exit mobile version